Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Tuesday, June 06, 2017

Sikap Modern Tidak Baik Yang Harus Dikurangi

Sikap adalah cara bersopan santun terhadap orang lain. Sejak dulu, manusia sudah diajarkan bagaimana cara bersikap dan melakukan sesuatu dengan benar dan menjunjung nilai kesopanan. Misalnya, di beberapa daerah, kita tidak boleh makan sambil berbicara atau makan sambil berjalan. Hal-hal seperti ini diajarkan turun-temurun oleh pendahulu kita.

Di era modern seperti sekarang, kita tentunya dihadapi dengan berbagai macam sikap dan polah tingkah manusia yang ada di sekitar kita. Mungkin ada yang masih terbawa dengan etiket orang jaman atau seperti sekarang, sudah lebih banyak hal-hal baru yang kita lakukan dan sudah membaur dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa hal baru ini bisa menjadi terlihat tidak sopan dimata orang lain jika kita melakukannya tidak pada tempat dan waktunya.

Berikut adalah 10 macam sikap modern tidak baik yang harus kita hindari yang dilansir dari Real Men Real Style:

ilustrasi: wikiHow

1. Membuat handphone kita lebih penting daripada orang yang ada di dekat kita.
Mungkin ada diantara kita yang memang memiliki pekerjaan yang sulit membuat kita terpisah dari ponsel? Ya, akan tetapi, jika kita sedang bersama seseorang, akan lebih baik dan sopan jika kita memprioritaskan orang yang sedang ada bersama kita itu daripada chat, SMS, maupun telepon yang masuk ke ponsel kita. Ini berarti kita menghargai orang tersebut karena orang itu ada untuk kita. Kalaupun misalnya ada telepon yang mendadak dari istri, suami, saudara, anak yang sedang sakit atau ada anggota keluarga yang kemalangan, beritahukan dulu bahwa kita mendapat telepon dari anggota keluarga kita, baru mengangkatnya. Hindari cara-cara seperti memotong pembicaraan tiba-tiba dan mengangkat telepon karena hal seperti itu tidak sopan dan membuat orang yang ada bersama kita menjadi merasa tidak dihargai.

2. Mengatakan sesuatu secara online yang nggak akan kita katakan secara langsung.
Ini sering sekali kita lakukan baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya, kita punya uneg-uneg terhadap orang lain dan kita mengungkapkannya di Facebook atau Twitter kita. Namun kita tidak mengatakannya secara personal kepada orang tersebut. Hal seperti ini akan sangat tidak sopan jadinya karena siapa yang melihat postingan itu akan membacanya dan tulisan yang sudah terbaca tidak akan bisa ditarik kembali walaupun sudah dihapus. Tak jarang ini menimbulkan perpecahan diantara teman dan teman. Akan lebih baik jika punya uneg-uneg, sampaikan langsung kepada orangnya.

3. Tidak melatih diri dengan bersikap baik.
Banyak yang berpikir kalau nggak apa-apa nggak berlatih bersikap baik di rumah karena jika nanti di luar, sikap seperti itu akan menyesuaikan dengan sendirinya. Namun, hal seperti itu tidak akan terjadi karena kita akan selalu membawa kebiasaan kita dan kebiasaan itu akan mempengaruhi sikap kita di luar, disadari atau tidak disadari. Misalnya orang yang biasa ngupil akan melakukannya di tempat umum tanpa ia sadari karena sudah menjadi kebiasaannya. Dan ini... euw....

4. Tidak tepat waktu.
Waktu adalah hal yang sangat berharga bagi siapapun dan siapapun tidak mau waktunya terbuang untuk hal-hal yang tidak perlu atau tidak mengenakkan buatnya. Jadi, jika kita punya janji dengan orang lain, usahakan untuk tepat waktu. Sepuluh atau lima belas menit lebih awal juga akan lebih baik. Jika kita bisa menjaga waktu kita, orang lain akan menilai plus kita dan kita pun dianggap menghargai waktu orang lain.

5. Tidak tanggap situasi.
Pernahkah kita melihat seorang nenek yang sedang bersusah payah menyeberangi jalan? Atau pernahkah kita melihat orang tua yang berdiri karena tidak mendapatkan kursi di dalam bus? Nah, akan lebih baik kita menjadi lebih tanggap situasi dalam hal seperti ini. Bantu nenek itu menyeberang atau berikan bangkumu untuk orang tua itu. Atau, situasi yang lain dimana kita sedang menemani teman kita yang sedang berbelanja dan kantong yang dipegangnya banyak sekali. Akan lebih baik jika kita membantu meringankan bebannya, tapi tidak harus semuanya.

6. Tidak menghargai orang.
Mungkin kita adalah lulusan cum laude di universitas terkemuka di negara kita. Saat kita bekerja di suatu perusahaan, kita akan menemui orang-orang dengan level yang berbeda dengan kita, ada yang diatas atau ada yang dibawah kita. Akan tetapi, bukan berarti kita bisa terlalu membanggakan diri dan sombong karena kita adalah lulusan terbaik dan menganggap yang lain rendah. Jika itu kita lakukan, kita tidak akan dianggap oleh rekan sekantor kita. Oleh karena itu, dengan berbagai macam orang yang ada disana, kita harus menghargai orang lain. Walaupun kita ketemu dengan OB dengan pendidikan terakhir SMP.

7. Suka menyela pembicaraan.
Mungkin diantara kita ada yang suka menyela pembicaraan orang lain. Ketika dua orang sedang berbicara, kita masuk ditengah-tengahnya bukan untuk ikut larut dalam obrolan tetapi membuat kesan yang tidak mengenakkan. Hal seperti ini akan lebih baik mulai dikurangi dari sekarang karena jika terus dipelihara, sikap ini akan membuat reputasi kita menjadi tidak baik dimata orang lain.

ilustrasi: businessinsider.com

8. Terlalu sering menggunakan kata-kata kasar.
Tidak semua orang bisa terbiasa mendengar kata-kata kasar apalagi menggunakannya. Lagipula, menggunakan kata-kata kasar memang tidak akan membuat kita terlihat keren, justru malah membuat kita terlihat kurang berpendidikan. Orang akan dengan cepat menganggap kita tidak bisa menahan kata-kata dalam menyampaikan sesuatu. Oleh karena itu, yang masih sering menggunakan kata-kata kasar, harap dikurangi.

9. Tidak sabar.
Mungkin masih banyak diantara kita yang masih suka menuntut orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita minta dengan cepat, bahkan lebih cepat dari waktu yang normalnya dibutuhkan untuk menyelesaikan permintaan atau pesanan itu, dengan dalih kita sudah membayar orang itu. Ketahuilah kalau semua orang, termasuk kita sendiri, tidak hanya menempatkan waktu untuk pekerjaan saja. Orang juga butuh waktu dengan keluarganya atau dengan hal lainnya. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kita lebih bersabar menunggu. Tidak hanya dalam konteks seperti ini, tetapi juga dalam konteks lainnya.

10. Tidak memperkenalkan.
Jika kita pergi bertemu seseorang dengan sahabat kita yang sudah kita kenal bertahun-tahun, akan lebih baik jika kita mengenalkan teman kita kepada seseorang itu. Kuncinya cukup berikan nama saja seperti, “Hana, ini Linda.” dan “Linda, ini Hana.” Ini tentu akan membuat obrolan menjadi lebih hangat.


Hm, bagaimana? Masih adakah diantara kita yang masih melakukan kesepuluh hal-hal diatas? Yuk, mari kita mengubah cara bersikap kita terhadap orang lain menjadi lebih baik lagi.

Friday, March 10, 2017

Apa Itu Cinta (Menurut Sains)?

Siapa sih yang nggak tau cinta? Anak kecil aja sekarang udah main cinta-cintaan pakai panggilan ayah bunda bikin para jomblo diatas 23 tahun jadi keki. Tapi, sebenarnya cinta itu apaan sih?

Cinta bisa didefinisikan dari berbagai sudut pandang dan tujuan. Mulai dari kebutuhan untuk bertahan hidup, tafsiran para filusuf, dan lain-lain. Begitu juga dalam sains, cinta juga mempunyai sudut pandang tersendiri.

Seperti yang dijelaskan Kokbisa, dalam neuroscience, cinta terjadi karena ada reaksi kimia yang “membanjiri” otak kita. Saat sedang menyukai orang lain, bagian hipotalamus otak kita memproduksi hormon oxytocin yang kadarnya lebih dari biasanya. Akibatnya perasaan stres kita menjadi berkurang. Selain oxytocin, hipotalamus juga memproduksi hormon vasopressin yang mengatur tekanan darah kita. Kedua hormon ini bersirkulasi dalam otak hingga membentuk senyawa dopamine yang membuat pikiran kita tidak bisa lepas dari orang yang kita suka.


Sumber foto: FreeDesignFile.com

Tentu saja, kalau pikiran kita sudah tak bisa lepas dari si dia, duniapun jadi milik berdua. Yang lainnya, ngontrak.

Lalu, kenapa waktu kita diputusin kita menjadi sedih, murung, hingga nggak mau keluar kamar selama seminggu?

Oke, reaksi yang terakhir memang berlebihan. Tetapi, kita menjadi sedih saat diputusin karena ada pergolakan di otak kita. Sementara itu, otak kita terus memproduksi senyawa dopamine yang membuat kita tetap mengingat si dia walaupun hubungan sudah berakhir. Hal ini yang membuat seseorang susah untuk move on.

Selain itu, bagian otak kita yang disebut orbital frontal cortex mengatur emosi kita yang sedang bergejolak. Bagian otak ini mendorong kita untuk melupakan si dia karena sudah tidak ada hubungan lagi. Tetapi disamping itu, dopamine yang diproduksi terus memotivasi kita untuk mengingat si dia. Jadi, kedua bagian otak ini saling bertentangan yang ujungnya menjadi kesedihan buat kita yang diputusin atau memutuskan hubungan dengan si dia.

Uniknya, cinta buta juga nyata dalam sains. Saat kita menyukai seseorang, otak kita pun bereaksi. Kemudian, di dalam otak kita ada bagian yang mengatur cara kita menilai baik atau buruknya sesuatu, misalnya enak atau tidaknya makanan yang kita makan. Saat otak kita bereaksi, bagian otak yang mengatur cara menilai ini terkadang ternonaktifkan sehingga hal ini yang membuat kita menjadi tidak bisa atau tidak pernah menilai baik buruknya orang yang kita sukai. Cinta buta itu kan?


Kenapa Kita Bisa Deja vu?

Pasti banyak dari kita yang pernah mengalami deja vu. Deja vu adalah sebuah istilah dari bahasa Perancis yang merujuk kepada suatu fenomena di dalam otak kita yang membuat ingatan kita yang seolah-olah kita merasa pernah berada di suatu tempat sebelumnya padahal kenyataannya kita baru pertama kali ada di tempat itu. Lalu, bagaimana sebenarnya deja vu bisa terjadi?

Sumber foto: 123rf.com

Menurut tayangan Kokbisa, saat ini ada 40 teori yang mencoba menjelaskan bagaimana terjadinya deja vu. Salah satu teori menjelaskan bahwa deja vu itu terjadi ada hubungannya dengan epilepsi. Dalam teori ini, deja vu terjadi karena adanya kejang di bagian lobus temporal otak manusia. Contohnya seperti orang yang sedang epilepsi, orang akan kehilangan fokus sehingga orang mengalami deja vu.

Teori lain mengungkapkan bahwa deja vu terjadi karena adanya rasa familiar yang muncul akibat kita tidak mengenali objek secara keseluruhan tetapi hanya menangkap beberapa sisi atau objek yang menarik perhatian kita saja.  Teori ini disebut dengan familirity based recognition. Contohnya adalah ketika kita mengunjungi suatu tempat dan melihat objek yang menarik perhatian kita, kemudian ketika kita mengunjungi tempat lain dan menemukan objek yang sama atau mirip, kita merasa pernah ke tempat tersebut. Padahal kenyataannya kita baru sekali kesana. Inilah yang disebut deja vu dalam teori ini.

Menurut beberapa penelitian, deja vu sering dialami oleh orang yang suka jalan-jalan, hobi nonton film, dan sering bermimpi. Dan orang tersebut mengingat objek yang dilihatnya dalam wisata jalan-jalannya, film tontonannya dan mimpinya, secara sadar maupun tak sadar. Jadi, ketika objek-objek yang kita ingat tersebut terlihat di depan kita, kita merasa deja vu.


Jadi, pengalaman deja vu seperti apa yang pernah kamu rasakan?

Kenapa Kita Suka Film Nonton Film Horor?

Mungkin diantara teman-teman kita ada yang hobi banget nonton film horor. Tiap akhir pekan ada saja film atau drama ber-genre horor yang di download padahal tahu kalau tindakan demikian adalah ilegal. Lalu, ketika ditonton, bukannya mereka berani-berani amat. Pada saat hantunya mau muncul mereka malah ketakutan setengah hidup. Jadi, walaupun takut, kenapa ya, mereka suka nonton film horor?

Menurut tayangan Kokbisa, orang yang merasa takut tetapi suka nonton film horor itu mungkin memiliki kepribadian tipe-T yang menyukai tantangan. Istilah kerennya adalah thrill-seeker. Menurut profesor di sebuah universitas di Philadelpia juga, Frank  Farley, orang yang berkepribadian tipe-T lebih suka merasakan sensasi yang ditimbulkan rasa takut sehingga bukannya menjauhi tantangan, malah justru mencarinya.

Sumber foto: FreeVector.com

Secara ilmiahpun bisa dijelaskan kalau manusia akan merasa takut jika ada ancaman yang mendekatinya, seperti dikejar hewan buas yang besar. Jadi, di zaman sekarang manusia pun bisa merasakan sensasi rasa takut tersebut dengan cara yang lebih aman. Misalnya, seperti teman kita yang dengan sengaja membeli tiket nonton film horor di bioskop dan menontonnya.

Saat menonton film horor, otak kita akan mengeluarkan hormon adrenalin yang nantinya akan merespon keadaan dengan bertarung atau melarikan diri. Akibat hormon adrenalin yang bekerja disaat kita sedang ketakutan, jantung kita akan memompa darah dengan lebih cepat, indera kita akan menjadi lebih tajam, otot juga menjadi lebih bertenaga walaupun belum makan. Ini dikarenakan tubuh kita membakar glukosa sebagai bahan bakar kinerja otak, otot, dan sel darah.

Uniknya, ada peneliti yang mengamati berapa kalori yang dikeluarkan tubuh jika menonton film horor tertentu. Akan tetapi ini bukan alasan untuk malas berolahraga, yah. Karena kalau cuma duduk sambil nonton film nggak bakalan banyak berpengaruh terhadap tumpukan lemak di perut kita. Apalagi kalau kita nontonnya sambil ngemil potato chips.

Secara psikologis, menonton film horor bisa membuat kita merasakan kepuasan batin. Karena kita tahu film horor yang kita tonton itu tidak nyata, walaupun ada catatannya “diilhami dari kisah nyata” tapi pada saat si tokoh antagonis jahat dalam cerita berhasil dikalahkan, kitapun juga merasa lega. Perasaan lega ini diakibatkan oleh otak kita yang mengeluarkan hormon endorfin yang berfungsi mengurangi rasa stres dan sakit. Tidak hanya hormon endorfin, otak kita juga memproduksi hormon dopamin yang membuat kita merasa puas setelah mencapai sesuatu yang kita inginkan dari film yang kita tonton itu.

Selain itu, film horor ternyata nggak sekedar hanya film hantu saja. Film yang ada monster menyeramkan dan bunuh-bunuhan juga merupakan film horor. Ada juga yang menyebutnya dengan film thriller. Dengan mengikuti film yang menantang ini, kita juga akan merasa tertantang dan melupakan sejenak dunia nyata kita. Ya, artinya dengan menonton film horor bisa kita bisa melarikan diri dari tugas yang menumpuk dan omelan bos di kantor.


Jadi boleh-boleh saja kalau kita hobi nonton film horor untuk melarikan diri dari kenyataan. Namun sayang, hal itu hanya sementara karena dunia nyata toh nggak jelek-jelek amat dari dunia fiksi yang kita tonton dalam film horor. Jadi kamu suka film horor berjudul apa?

Wednesday, March 08, 2017

3 Tips Untuk Membangun Rasa Percaya Diri Kita

Pada saat kita dihadapi situasi sulit dan nampaknya di setiap langkah kita selalu ada kegagalan, kita biasanya dimotivasi dengan orang lain dengan kalimat penyemangat, “Ayo, dong, kamu pasti bisa” untuk membuat kita lebih percaya diri. Kita sendiri, kesulitan untuk membangun rasa percaya diri kita, dan seringnya malah mengeluh, “Andai saja semuanya mudah dilakukan”. Namun sebenarnya, apa sih percaya diri itu?

Percaya diri adalah keyakinan bahwa kita bisa, mampu, berharga, dan juga optimis dengan kemampuan diri sendiri serta ditambah dengan tindakan penuh keberanian untuk menghadapi segala tantangan. Intinya, percaya diri dapat mengubah ide-ide yang ada dalam kepala kita menjadi tindakan sampai menuju kesuksesan. Lalu, darimana percaya diri ini bisa muncul? Tentu saja dari diri kita sendiri, namun ada beberapa hal yang mempengaruhinya.

Sumber foto: shutterstock.com

Menurut tayangan di TED-ed, hal pertama yang mempengaruhi munculnya kepercayaan diri adalah bawaan lahir kita. Kita mempunyai bawaan lahir yang berbeda, masing-masing, yang dapat mempengaruhi cara kerja otak kita dalam menanggapi situasi atau suatu kondisi. Yang kedua adalah bagaimana kita diperlakukan dalam lingkungan sekitar kita. Dan yang terakhir adalah kontrol kita terhadap sesuatu seperti keputusan yang kita pilih, pengalaman resiko yang kita hadapi dan juga bagaimana cara kita merespon tantangan dan rintangan yang dihadapi.

Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa membangkitkan rasa kepercayaan diri kita? Ya, tentu saja harus dimulai dari kita sendiri. Orang lain di sekitar kita paling hanya bisa mendukung sebisanya dengan ucapan yang membangkitkan semangat dan tindakan membantu lainnya. Namun, jika tidak dimulai dari diri sendiri, semuanya akan sia-sia. Berikut ada tiga tips bagaimana caranya supaya kita bisa membangkitkan kepercayaan diri.

Pertama, lakukanlah perubahan. Perubahan disini maksudnya mengubah sesuatu yang dapat mengubah mood kita dari murung karena putus asa menjadi mood yang lebih baik, yang membuat kita menjadi lebih semangat. Misalnya, dengan mendengarkan musik kesukaan, kita bisa mengembalikan semangat kita. Tapi jangan pula dengar lagu yang galau, ya. Terkadang aliran atau lirik lagu yang kita dengar bisa sangat mempengaruhi mood kita. Jadi pilihlah lagu yang bisa membuatmu lebih semangat.

Setelah mood-mu menjadi lebih baik, kita bisa kembali memvisualisasikan keberhasilan kita terhadap tujuan kita. Tapi, jangan down lagi. Karena yang namanya sukses itu menanjak seperti tangga, maka kita harus kembali bersemangat menghadapi tantangan yang ada demi tujuan yang kita impikan.

Tips kedua untuk membangkitkan kepercayaan diri adalah percayalah kalau kita mampu berimprovisasi. Ya, yakinlah kalau kita bisa melakukan sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Apalagi kalau hal-hal yang mendukung kita menuju tujuan kita itu suatu hal yang bisa diubah atau dikembangkan. Misalnya, tujuan kita ingin menjadi pemain sepak bola yang handal. Maka hal-hal yang mendukung kita seperti stamina yang kuat dan kecepatan lari yang kencang bisa dikembangkan dengan latihan demi latihan. Memang melelahkan, akan tetapi jika kita mempunyai mindset yang berkembang, gigih dengan latihan dan yakin pasti bisa, serta berusaha dengan sekuat tenaga, pasti kita bisa meraih tujuan kita. Karena pada dasarnya rintangan yang kita hadapi saat sedang berusaha menuju tujuan kita adalah kesempatan kita untuk belajar dan berimprovisasi.

Dalam ilmu neurologi, sel otak kita juga dapat berpengaruh menjadi lebih baik melalui latihan dan belajar. Sel-sel otak kita saling berhubungan dengan latihan-latihan dan pembelajaran yang kita lakukan setiap saatnya. Misalnya, saat pertama kali kita belajar memainkan bulu tangkis mungkin kita tidak bisa melakukan servis dengan baik. Namun, setelah kita melakukan latihan berulang-ulang kali, dalam seminggu kita bisa melakukan servis dengan cara yang lebih baik dari saat kita pertama kali melakukannya. Orang yang mempunyai mindset berkembang dan yakin pada kemampuannya sendiri dipercaya akan menjadi orang yang lebih sukses dibandingkan orang biasa, pada bidangnya. Seperti anak-anak sekolah yang belajar tekun, mereka bisa mendapatkan nilai A karena usahanya dalam belajar.

Tips yang terakhir adalah belajar dari kegagalan yang kita terima. Kita memang tidak jarang mengalami kegagalan saat sedang mencapai tujuan kita. Namun, jangan berkecil hati dan bersedih lama-lama. Hadapilah dan teruslah berusaha. Pelajari apa yang kita dapat dari kegagalan tersebut, dan evaluasi apa yang salah dari kita, lalu perbaiki. Bahkan penulis Harry Potter, JK. Rowling, mengalami penolakan saat naskahnya dikirimkan ke penerbit. Setelah beberapa penerbit yang menolak, akhirnya ada satu penerbit yang menerima naskahnya.

Menurut penelitian, orang yang terbiasa mengalami kegagalan namun terus berusaha, akan lebih tanggap terhadap situasi yang akan dihadapinya. Ia akan mencari cara untuk menghadapi rintangan yang akan dihadapinya, akan bertanya kepada orang, mencari informasi agar ia menjadi lebih maju dari sebelumnya. Ya, ini memang tidak mudah. Karena dari kesulitanlah kita akan belajar dan mendapat kemudahan.

Makanya, jika ada dari kita yang masih murung karena kegagalan yang diterima, bangkitlah. Lakukan lagi,dan terimalah kalau kita akan menemukan rintangan dan kegagalan. Kemudian,  temukan cara yang terbaik untuk merespon situasi yang kita hadapi, dan coba lakukan lagi sampai bisa. Berbaik sangkalah kepada diri sendiri kalau kita bisa.


Siap untuk mencoba lagi demi tujuanmu?

Saturday, February 25, 2017

Apakah Hubungannya Golongan Darah Dengan Sifat Kita?

Suatu hari, empat sekawan yang memiliki golongan darah berbeda berencana berlibur ke pantai. Di hari yang sudah ditentukan, si kawan bergolongan darah A sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk bepergian. Sementara itu, si kawan bergolongan darah O mau ikut pergi tapi tanpa persiapan yang matang. Lain lagi halnya dengan si kawan bergolongan darah B yang berkata tidak ingat kalau ada janji bepergian hari itu. Si kawan bergolongan darah AB malah dengan cueknya membatalkan di hari H. Apakah kita percaya dengan jabaran sifat kawan kita yang bergolongan darah sama dengan si empat sekawan?

Sumber foto: gogoanime.tv

Contoh diatas merupakan contoh penggolongan sifat berdasarkan golongan darah yang sedang ngetrend saat ini. Tapi, sama halnya seperti horoskop ramalan bintang, penggolongan sifat berdasarkan golongan darah hanyalah sebuah ilmu yang sekiranya sederajat dengan ramalan bintang. Jika kita yang bergolongan darah A dan merasa hidup kita teratur, kita akan merasakan bahwa yang dikatakan dalam buku Simple Thinking Of Blood Type karya Park Dong Sun adalah sebuah kebenaran. Sekali lagi, itu hanyalah efek barnum, atau sesuatu yang kita anggap benar karena langsung ditujukan khusus kepada kita. Tapi bagaimana jika kalau memang ada nyata teman kita yang bergolongan darah sama sesuai dengan penggolongan sifatnya?

Menurut tayangan di Kokbisa, hal tersebut bisa dijelaskan dengan confirmation bias. Maksudnya, kita sebagai manusia suka mencari tahu tentang info-info yang ada kemudian mengkaitkannya dengan keyakinan atau ekspektasi kita. Pada akhirnya, kita menjadi percaya kalau orang bergolongan darah A sifatnya sangat teratur dan patuh pada peraturan. Padahal kita nggak tahu kalau ternyata maling yang nyolong ayam tetangga kemarin malam bergolongan darah A.

Hingga saat inipun, hubungan antara golongan darah dengan sifat seseorang belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Memang sudah ada peneliti yang mencoba, akan tetapi hasilnya dianggap kurang valid dan mengandung unsur politis seperti yang sudah dilakukan seorang psikolog asal Jepang, Takeji Furukawa pada tahun 1920-an. Pada saat itu, pemerintah Jepang sedang melakukan perluasan wilayah jajahan ke negara-negara di Asia Timur. Akan tetapi, tentara Jepang menghadapi masalah dengan warga Taiwan yang melawan. Jadi, Profesor Furukawa ingin tahu bagaimana penggolongan sifat orang Taiwan berdasarkan golongan darahnya.

Beberapa tahun kemudian, sebuah buku berjudul Ketsuekigata Ningen-gaku atau Blood Type Humanics karya seorang jurnalis bernama Masahiko Nomi terbit. Buku ini dianggap kurang valid, namun Masahiko menyajikan data statistik yang meyakinkan sehingga buku itu laris dan penggolongan sifat berdasarkan golongan darah semakin populer di Asia Timur. Bahkan banyak biro jodoh disana yang berpatokan dengan ketsuekigata.


Seperti halnya ramalan bintang, mengetahui sifat seseorang, apalagi gebetan incaran, melalui penggolongan sifat berdasarkan golongan darah memang menarik. Tapi akan lebih baik tanya langsung dan ngobrol langsung saja daripada repot-repot lihat horoskop segala versi. Karena versi sifat si gebetan yang validnya pasti dari dianya sendiri. Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat dan cepat dapat gebetan bagi yang masih jomblo.

Benarkah Ramalan Zodiak Cocok Dengan Sifat Kita?

Diantara kita mungkin ada yang suka melihat ramalan horoskop, bahkan sampai follow akun atau pasang aplikasi ramalan horoskop supaya nggak ketinggalan setiap harinya. Tidak hanya itu, mungkin malah ada dari kita yang mencari pacar berdasarkan kecocokan zodiak. Kalau nggak cocok, main seenaknya diputusin aja. Mungkin ada juga teman kita yang suka membaca kepribadian orang hanya dengan menanyakan kapan tanggal lahirnya. Kemudian, ia langsung bisa membaca kepribadian seseorang berdasarkan zodiak si kawan. Tapi apa benar zodiak itu bisa menentukan sifat orang?

Seperti yang dijabarkan oleh Kokbisa, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan kalau sifat di horoskop bisa menentukan sifat manusia. Justru kita sebenarnya hanya merasa kalau yang dikatakan ramalan itu benar. Ya, hanya merasa kalau itu benar. Mengapa demikian?

Ternyata ini hanyalah efek barnum. Fenomena tersebut adalah fenomena dimana kita menganggap benar semua informasi yang kita terima khusus untuk kita. Misalnya, saat kita membaca horoskop di bagian kesehatan, disana disarankan untuk menjaga kesehatan karena minggu ini tubuhmu lebih rentan terhadap flu. Kita, sebagai orang yang paling tahu status kondisi tubuh kita, bisa jadi menganggapnya benar. Apalagi kita punya gejala-gejala flu disaat kita sedang membacanya. Padahal bisa saja tubuh kamu memang lagi lemah, bukan karena ramalan horoskopnya, tapi karena tidak istirahat yang cukup.

Sumber foto: www.vector-eps.com

Contoh lainnya, yaitu saat kita sedang membaca artikel-artikel zodiac sign yang lagi ngetrend sekarang. Disana dibilang kalau orang berzodiak Cancer kalau bangun tidur bukannya cepat mandi dan berangkat sekolah tapi malah balik badan dan tidur lagi sambil menggumam “5 menit lagi”, sedangkan orang berzodiak Virgo dikatakan sebagai orang yang teratur paling cepat bangun pagi dan bersiap untuk melakukan rutinitas harian. Kalau kita berzodiak Cancer dan memang memiliki sifat buruk susah bangun, kita tentu menganggapnya sebagai kebenaran. Padahal mungkin teman kita yang berzodiak Virgo malah lebih telat lagi bangunnya dari kita.

Jadi jangan heran kalau sifat orang bisa bertolak belakang dengan sifat “seharusnya” berdasarkan zodiak. Sebenarnya, apa yang dijabarkan horoskop belum tentu benar. Itu hanyalah anggapan kita saja, yang secara psikologis melekat pada kita dan didukung oleh kebetulan-kebetulan yang sedang terjadi di sekitar kita. Karena pada dasarnya, sifat manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti genetik, fisik, keluarga, lingkungan, sosial dan budaya kita.

Sumber foto: www.vector-eps.com


Mengetahui sifat kita maupun orang lain berdasarkan zodiak, maupun masa depan dengan ramalan bintang memang seru. Tapi jangan pula dijadikan acuan, karena masa depan kita bukan ramalan bintang yang bentuk, melainkan kita sendiri. Sekian dulu dan terima kasih.

Wednesday, February 22, 2017

Benarkah Orang Tertentu Punya Sifat Seperti Itu? (Stereotipe)

Orang Batak itu keras, orang Padang itu pelit, orang Jawa itu lamban. Penilaian seperti ini sepertinya sangat lumrah di dalam masyarakat kita. Ya, penilaian seperti ini disebut dengan stereotipe. Seperti yang dikutip dari Wikipedia, stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang yang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok mana orang tersebut dapat dikategorikan. Ya, seperti tadi. Bisa jadi diantara kita punya teman atau tetangga orang Padang atau sukunya Minang, kita langsung menilainya pelit karena yang kita dengar orang Padang itu suka irit.

Suku yang lain, misalnya orang Batak yang terkenal ngomongnya keras. Bukan suaranya yang keras, tapi nada bicaranya yang begitu tegas, apa adanya dan nggak banyak basa-basi kalau ngomong alias to the point. Kalaupun omongannya bikin kita nangis dan hati teriris, tapi itulah omongan jujur mereka. Oleh karena itu mereka dianggap sebagai orang yang keras, apalagi rata-rata suksesnya mereka pada jadi pengacara. Oh ya, memang kebanyakan orang Batak sanggup teriak-teriak kencang dengan suara keras. Makanya suara mereka laku banget di paduan suara gereja maupun di panggung hiburan.

Sumber gambar: pinterest.com

Menurut tayangan di Kokbisa, orang Jawa terkenal bicaranya lemah lembut dan muter-muter. Hal ini karena kebanyakan orang Jawa dulunya adalah kaum penguasa dan kerajaan, jadinya mereka tahu mengambil hati rakyat dengan ucapan yang lemah lembut. Tapi bukan berarti kita bisa macem-macem sama orang Jawa, walaupun lembut mereka nggak bisa ditindas, ya.

Suku lain yang asalnya dari negeri Tionghoa, yang sekarang sudah ada dimana-mana, di negara manapun hingga adanya kota pecinaan di setiap negara pun mempunyai stereotipe sendiri di negeri kita Indonesia. Kalau kita ketemu dengan orang Tionghoa, yang terlintas dalam pikiran kita pasti ini orang pedagang, kalau enggak ya pengusaha. Kalau dibilang tetangga kita yang Tionghoa kalau dia kerjanya di kantor pemerintahan atau di tempat lain, pasti nggak percaya. Padahal si tetangga kerjanya beneran jadi dosen di universitas.

Diantara 1370 suku bangsa di Indonesia, pasti ada saja stereotipe yang melekat di masing-masing suku bangsa terhadap suku bangsa lainnya. Tapi beneran, ya. Nggak adil rasanya cuma menilai seseorang hanya berdasarkan suku bangsanya. Seperti tadi, misalnya kita punya tetangga orang Padang, tapi nggak berarti juga dia pelit. Mungkin kita nggak tau ternyata dia itu manusia paling dermawan yang ada di lingkungan kita.


Intinya, belum tentu teman atau tetangga yang kita kenal dengan latar belakang suku tertentu itu mempunyai sifat sesuai dengan stereotipenya. Bisa jadi, malah sebaliknya. Atau bisa jadi kita menemukan orang pelit di suku-suku lainnya. Artinya, stereotipe itu nggak 100% benar seperti yang dikabarkan. Kalau kita selalu menganggap suku ini begini orangnya atau suku itu begitu orangnya, yang ada bikin tersinggung orang lain saja dan memecah persahabatan. Lebih baik kita bersahabat dan saling mengerti satu sama lain karena Indonesia ini raya. Sekian dan terima kasih.

Kenapa Cewek Gampang Emosian Menjelang Datang Bulan?

Kalau kita melihat ada teman cewek yang lagi badmood seharian, kita biasanya langsung mencap dia lagi PMS ketimbang “mungkin ada masalah lain”. Istilah PMS sendiri sebenarnya berasal dari dunia medis dan psikologis bangsa barat yang kepanjangannya Pre Menstrual Syndrome. Singkatnya, PMS adalah bermacam-macam gejala yang terjadi kepada cewek antara seminggu sampai dua minggu menjelang datang bulan. Lalu, apa hubungannya sindrom ini dengan emosi cewek?

Sumber gambar: pinterest.com

Menurut banyak pendapat, ternyata hampir semua cewek di dunia ini mengalami PMS. PMS sering dituduh sebagai biang kerok naik turunnya emosi dan mood seorang cewek. Sindrom ini sebenarnya menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada masing-masing cewek. Ada yang tiba-tiba jerawatan, sakit perut, nggak bisa tidur, susah berkonsentrasi saat berpikir, dan emosi yang berubah-ubah dalam waktu singkat. Gejala-gejala itu akan sembuh saat menstruasi dimulai atau setelah datang bulannya selesai.

Menurut penelitian terbaru, menjelang menstruasi sebagian besar cewek mengalami siklus hormon yang menyebabkan tingkat stresnya lebih tinggi. Hal ini mengakibatkan tubuh mereka terasa kurang fit. Jangankan cewek, orang yang kurang fit pasti akan gampang emosian kalau diganggu atau ada sesuatu yang tidak mengenakkan dihatinya.

Berdasarkan tayangan di Kokbisa, gejala yang ditimbulkan sindrom ini bisa mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari bagi beberapa cewek. Dalam dunia medis, hal ini disebut sebagai Pre Menstrual Dysphoric Disorder. Namun, kabar baiknya gejala yang sampai mengganggu aktivitas itu hanya terjadi pada 3 hingga 8% cewek yang ada di dunia ini dan bisa diobati. Sementara 90% lainnya, gejala itu tidak akan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.


Jadi, kalau teman cewek kita lagi badmood, lebih baik ditanya dulu sedang ada masalah apa dan tawarkan solusinya, daripada langsung nge-judge “Kamu lagi PMS, ya?”. Itu justru akan membuatnya makin marah karena kebanyakan cewek malu kalau ketahuan dia lagi sindrom menjelang datang bulannya. Sekian dan terima kasih.

Sunday, February 19, 2017

Kenapa Kita Suka Drama? (Baik Nonton Maupun Ngedrama)

Pasti banyak dari kita yang suka banget nonton drama. Mulai dari sinetron kejar tayang, telenovela asing, drama Korea dan India, serial TV Amerika, sampai drama di internet. Sebenarnya apa sih drama itu dan kenapa orang suka dengan drama (bahkan suka ngedrama)?

Drama menurut Urban Dictionary adalah suatu kejadian yang biasa-biasa saja, namun dibesar-besarkan seolah itu adalah masalah yang besar. Ya, seperti yang kita lihat di kebanyakan drama, suatu masalah yang ditimbulkan satu tokoh menjadi besar hingga keluarga besarnya terlibat bahkan warga satu kampungnya pun terlibat. Jadi, kalau hanya masalah yang diperbesar, kenapa kita bisa suka drama?

Seperti yang ditayangkan di channel Kokbisa, kita suka drama karena drama dapat membuat kita merasa puas. Hidup yang sebagian besar kita jalani sebagai manusia yang biasa-biasa aja, ya biasa banget dan gitu-gitu saja. Oleh karena itu, kita memerlukan sesuatu yang berbeda agar hari kita terasa lebih memuaskan saat kita jalani dan salah satunya dengan menonton drama, dan juga mendrama. Agar bisa merasakan kesenangan, ketakutan, ketegangan, dan keseruan lainnya, kita menyetel TV kita dengan drama India. Sayangnya, efeknya hanya ilusi saja, cepat hilang dan hanya sekedar membuat kita senang saja setelah menontonnya.

credit photo: shutterstock.com

Dengan menonton drama, kita bisa menyalurkan emosi kita apakah emosi perasaan senang yang positif atau rasa sedih yang negatif. Emosi-emosi ini memicu otak kita mengeluarkan endorfin dan dopamin. Efek dari zat kimia dalam otak kita itu dapat mengurangi rasa sakit, menghilangkan stres, dan meningkatkan rasa senang. Oleh karena itu, banyak dari kita yang makin suka nonton drama bahkan mendrama.


Drama akan selalu ada di sekitar kita, entah orang lain pelakunya atau malah kita sendiri tanpa kita sadari. Ya, kalau ada isu panas di internet, terkadang tangan kita gatal mengomentarinya dan memberikan opini kita sendiri terhadap isu tersebut. Tapi, hati-hati juga kalau ikut nimbrung membicarakan sebuah isu, mana tahu cuma kabar bohongan alias hoax. Jadi, kedepannya kita bisa memilah dan memilih di drama mana kita ingin nimbrung. Sekian dan terima kasih.

Apa Benar Mendengar Musik Klasik Bikin Pintar?

Siapa sih yang tidak suka musik? Pasti semua orang suka musik tetapi mungkin beda alirannya. Ada yang suka musik rock, jazz, klasik, qasidah sampai dangdut. Kita pasti pernah dengar kalau musik klasik bisa membuat kita pintar. Tapi, apakah itu benar?

Menurut tayangan di kanal Kokbisa, hasil penelitian tiga mahasiswa sebuah universitas di California menunjukkan bahwa musik klasik Mozart yang diuji memberikan efek penambahan spatial temporal intelligence atau kemampuan spasial untuk mengenali ruang, bentuk dan arah kepada para sampel penelitian. Akan tetapi, hanya bagian kemampuan spasial dari IQ itu saja yang naik 8 hingga 9%. Mereka tidak menjelaskan hal lainnya.

credit photo: istockphoto.com

Karena kabar hasil penelitian ini tersebar luas di sebuah jurnal terkenal di dunia, banyak orang yang salah paham menganggap bahwa musik klasik dapat meningkatkan keseluruhan IQ manusia. Seperti yang tercantum dalam buku seorang doktor spesialis THT bernama Alfred Tomatis menyebutkan bahwa mendengar musik klasik dapat memicu penyembuhan tubuh dan perkembangan otak. Lalu, seorang pendidik sekaligus musisi bernama Don Campbell menulis sebuah buku yang berkaitan dengan efek musik klasik Mozart pada zaman itu menjadi booming. Bahkan, gara-gara kabar tentang musik klasik ini membuat pemerintahan negara bagian di Amerika Serikat menyediakan dana untuk membagikan kaset musik Mozart untuk setiap bayi warga negaranya yang lahir agar menjadi anak yang pintar. Tidak hanya itu, sebuah artikel di Amerika Serikat juga mengatakan bahwa efek musik klasik Mozart bisa membantu kinerja berpikir bagi anak-anak. Ditambah lagi, sebuah artikel di Tiongkok yang mengatakan jika bayi dalam kandungan diperdengarkan musik klasik, maka bayi itu akan menjadi lebih pintar dari bayi yang tidak diperdengarkan musik klasik.

Seperti gosip berantai dari tetangga ke tetangga, terkadang kabar yang kita dengar itu belum tentu betul-betul benar. Mungkin saja ada bagian yang ditambahkan dan ada yang dikurangi. Inilah yang terjadi pada mitos musik klasik yang bisa bikin kita menjadi lebih pintar.

Setelah diteliti lebih mendalam, yang membuat kita lebih pintar saat mendengarkan musik klasik sebenarnya bukanlah musik klasiknya, melainkan keadaan manusianya saja yang merasa senang saat mendengarkan musik klasik, atau istilah kerennya enjoyment arousal. Enjoyment arousal adalah keadaan psikologis dimana kita bisa merasa menikmati saat melakukan atau mendengar sesuatu yang efeknya dapat membuat kita berpikir lebih jernih dan mengerjakan tugas dengan lebih baik.


Musik memang mampu membuat kita rileks dan menikmati alunannya, aliran apapun itu, sesuai dengan minat kita masing-masing. Tidak hanya itu, musik juga dapat menghilangkan stres. Kalau stres kita hilang dan pikiran kita rileks, tentu saja kita bisa berpikir lebih jernih. Sayangnya, efek ini hanya bertahan sementara, karena jika kita teringat dengan tugas yang masih menumpuk, kita akan stres lagi. Oleh karena itu, lebih baik kita mendengarkan musik sambil pelan-pelan mengerjakan tugas kita agar tidak semakin menumpuk. Sekian dan terima kasih.

Gimana Kita Bisa Tahu Seseorang Berbohong?

Mungkin kita pernah menanyakan kabar seseorang kerabat, kemudian menerima jawaban baik-baik saja. Akan tetapi, sebenarnya bisa jadi dia sedang patah hati atau patah kaki dan sedang dirawat di rumah sakit. Mungkin juga kita pernah menelepon seseorang namun tidak diangkat-angkat. Dua jam kemudian kita mendapat respon darinya via pesan teks bahwa baterai ponselnya sedang mati.

Kebohongan adalah hal yang lazimnya kita hadapi sehari-hari. Bahkan dalam sehari, tanpa kita sadari kita menemukan kebohongan satu, dua, sepuluh, hingga 200 kali saat berinteraksi dengan orang lain. Banyak teknik yang dapat mendeteksi kebohongan, mulai dari alat torturing, monitor tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi tekanan suara hingga scanner otak menggunakan infra merah. Akan tetapi, alat-alat canggih tersebut masih saja bisa dibohongi. Bahkan bisa membohongi badan hukum tertinggi sekalipun.

Lalu, bagaimana kita bisa tahu kalau seseorang sebenarnya sedang berbohong kepada kita? Mungkin saja, alat-alat diatas tidak dapat dijangkau oleh kebanyakan orang. Namun, sebenarnya ada cara yang lebih simpel namun harus sering dipelajari secara mendalam, yaitu dengan ilmu berkomunikasi.
Jika kita mau jujur dengan diri kita sendiri, kita pernah berbohong kepada orang lain tentang diri kita sendiri. Mengapa? Karena kita lebih menginginkan kalau orang lain tahu bahwa kita adalah orang yang sesuai dengan harapan kita sendiri daripada sifat nyatanya kita. Misalnya, kita mengharapkan orang lain tahu kalau kita adalah orang yang jujur dan telah berpengalaman dalam suatu urusan. Maka kita akan mengatakan kepada orang tersebut dengan bahasa kita berkomunikasi bahwa kita adalah orang yang demikian. Namun, nyatanya, pengalaman kita belumlah banyak yang kita harapkan. Otak kita sebenarnya lebih banyak berisi tentang impian kita sebagai siapakah kita daripada realita siapa kita sebenarnya.

credit photo: wikihow.com

Lalu, bagaimana kita bisa mendeteksi seseorang yang berbohong dengan berkomunikasi ini?
Berdasarkan pengamatan realita, ekspektasi kita terhadap diri kita sendiri berbeda dengan keadaan realitanya. Jadi, bisa disimpulkan, jika kita diajak berbicara tentang pribadi kita, kita akan menggunakan bahasa kita dengan menambahkan susunan gaya bahasa tertentu yang hanya diketahui maksud sebenarnya dengan memperhatikan caranya berbicara atau berkomunikasi dengan kita. Dan tentu saja, hal itu membutuhkan energi dan waktu ekstra untuk membicarakannya dihadapan orang lain. Ya, karena tentang pribadi kita sendiri. Pada dasarnya, kita mencemaskan opini orang lain terhadap kita.

Seperti yang dikatakan Noah Zandan pada tayangan TED-Ed, sebuah teknik yang dinamakan Lingustic Text Analysis, atau analisis teks linguistik dapat membantu kita mengidentifikasi beberapa pola gaya bahasa yang dapat menentukan apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.
Pertama, pembohong biasanya berusaha menyatakan bahwa dia tidak menipu dengan menceritakan sesuatu yang sebisa mungkin tidak dikait-kaitkan dengan dia. Dia akan membicarakan orang lain dan orang lain dan menggunakan tokoh orang ketiga untuk membuat orang lain percaya jika dia tidak termasuk dalam orang-orang yang diceritakannya. Akan tetapi, apa yang diceritakannya akan terdengar ganjil jika dia menceritakannya dengan terlalu detil. Padahal dia mengaku tidak ikut dalam cerita tersebut.

Kedua, pembohong akan berusaha mengatakan sesuatu yang terdengar negatif. Maksudnya, ketika seseorang tahu bahwa dia berbohong, maka ia akan merasa bersalah karena telah mengatakan kebohongan, tapi tetap menyembunyikannya, dan mengalihkan pembicaraannya dengan kita dengan kata maaf atau keluhan tertentu. Misalnya dengan berkata maaf lama membalas pesan karena baterai ponsel yang habis, padahal sebenarnya ia hanya malas menanggapi pesan yang diterimanya.

Lalu yang ketiga, pembohong lebih suka menceritakan suatu peristiwa dengan alur penjelasan yang sederhana. Karena, otak manusia lebih mudah mencerna cerita yang sederhana dibandingkan cerita asli yang selengkapnya. Akan tetapi, walaupun alur yang diceritakan sederhana, dia akan menceritakannya dengan bahasa yang panjang bahkan berbelit-belit kepada kita. Tak jarang para pembohong menggunakan penekanan kata-kata tertentu pada kalimat yang diucapkan yang mungkin bermakna sebaliknya.

Namun dari semuanya, kebanyakan kebohongan yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari bukanlah kebohongan yang serius sekali hingga bisa mengurangi kepercayaan kita kepada orang lain secara drastis. Tetapi, jika kita bisa mengidentifikasinya, maka kita tidak akan mudah dibohongi dengan cerita orang lain. Tidak perlu menuduh cerita seseorang hanyalah fiktif belaka, tetapi tetap rileks saja mendengarkan dan kita bisa menilai sendiri dengan sejumput ilmu berkomunikasi kita apakah yang dikatakannya fakta atau bukan. Silahkan dicoba dan mencoba mengidentifikasi cerita temanmu dan terima kasih telah membaca penjelasan ini.

Kenapa Kita Menggebrak Meja Saat Marah?

Sewaktu kita sedang marah, apalagi marah yang sudah dipuncak, kita sering sekali menggebrak meja, melempar barang, membanting sesuatu hingga memecahkan piring. Kenapa hal itu bisa terjadi walaupun dalam keadaan emosi yang normal kita tahu kalau hal itu merugikan?

Menggebrak meja dan melempar barang sebenarnya adalah penyaluran emosi dalam diri kita yang diwujudkan dalam bentuk gerakan dari tangan kita. Ya, ketika kita marah maupun frustasi atau kecewa dengan keadaan, kita memerlukan sesuatu untuk dilampiaskan. Kalau kita hanya menyimpan amarah, kita akan merasa stres. Kita yang sedang marah tentu saja otomatis tidak ingin menjadi stres karena keadaan, sehingga kita melampiaskannya dengan membanting sesuatu atau menendang sesuatu.

credit photo: freepik.com

Selain itu, karena kita merasa tertekan dengan keadaan sulit yang ada, kita merasa tidak memiliki kontrol atas keadaan itu. Dengan melakukan tindakan seperti melempar remote TV atau menendang tong sampah, secara psikologis kita akan merasa kita bisa mengendalikan keadaan walau faktanya tidak benar-benar bisa. Hanya saja, dengan melampiaskannya, kita menjadi merasa bisa mengontrolnya.

Memang, menendang tong sampah dan menggebrak meja bisa membuat kita puas secara emosional daripada hanya menggerutu dalam hati saja. Akan tetapi, sifat seperti ini sebaiknya dikurangi dan dihindari karena sangat berbahaya. Membanting barang disaat kita sedang emosi, menandakan kita adalah orang yang kurang bisa mengendalikan diri sendiri. Selain itu, barang yang kita bantingpun bisa rusak dan harus bolak-balik diganti. Tidak hanya itu saja, melempar atau menendang barangpun berbahaya jika yang kita lempar atau tendang adalah benda tajam dan berat yang bisa melukai orang lain. Bisa-bisa nantinya kita malu karena kabarnya masuk berita nasional atau media sosial.


Jadi kesimpulannya, kalau kita sedang dalam kondisi emosional, cobalah untuk menghadapinya dengan lebih tenang. Memang sulit pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu dan latihan mengendalikan emosi setiap saat, kita akan paham cara menghadapinya. Sekian dan terima kasih.

Thursday, February 16, 2017

Kenapa Pulang Lebih Cepat Daripada Pergi?

Sewaktu pergi ke tempat yang sebelumnya belum pernah didatangi, kebanyakan dari kita pasti merasa kalau perjalanan pulangnya terasa lebih cepat saat kita pergi. Padahal jarak yang kita tempuh dan kecepatan mobil yang kita kendarai relatif sama. Mengapa demikian?

Menurut tayangan di kanal Kokbisa, hal ini disebut dengan Return Trip Effect, dimana kita merasakan perjalanan pulang itu terasa cepat. Saat kita pergi ke suatu tempat, kita merasa lama sekali sampai ke tempat tujuan. Bahkan ada yang protes dengan yang menyetir mobil. Namun, saat kita pulang, rasanya tau-tau sudah sampai saja.

Sebenarnya efek ini hanya aktivitas otak kita saja. Saat pergi, kita yang belum pernah atau jarang melewati tempat yang dituju, cenderung mencoba mengingat rute yang sedang dilalui. Otak kita fokus dengan jalan, tikungan, penanda-penanda jalan dan objek-objek lain yang membuat kita dapat mengingat rute perjalanan. Karena aktivitas otak kita itu, persepsi kita terhadap waktu pun akan terasa semakin lama. Padahal, kecepatan waktu selalu sama. Hal ini bisa diasosiasikan dengan siswa yang mengantuk di kelas karena guru sedang menjelaskan pelajaran yang membingungkan. Waktu akan terasa lama karena otak siswa tersebut fokus dengan pelajaran yang membuatnya bingung.

Credit photo: newsela.com

Sebaliknya, saat pulang, otak kita sudah familiar dengan objek-objek pada rute jalan karena kita sudah mengingatnya saat perjalanan pergi. Otak kita pun tidak perlu terlalu fokus lagi seperti saat kita dalam perjalanan pergi. Hal ini membuat persepsi kita terhadap waktupun menjadi lebih cepat. Hasil penelitian di Selandia Baru pun mengatakan bahwa return trip effect ini sering terjadi jika kita pergi ke tempat-tempat yang baru. Oleh karena itu, kalau ke tempat yang sudah familiar, yang sudah lebih dari 5 hingga 10 kali didatangi, kita akan merasa waktu pergi dan pulang itu sama saja.

Selain itu, ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa saat pergi ke suatu tempat, kita mempunyai ekspektasi atau target waktu tiba di tempat tujuan. Misalnya kita pergi dari rumah ke suatu tempat yang biasa ditempuh dalam waktu 3 jam. Akan tetapi, saat di perjalanan pergi kita mengalami kemacetan dan lain hal sebagainya yang menghambat perjalanan kita. Hal itu bisa juga membuat kita merasa perjalanan pergi terasa lama. Sebaliknya, saat pulang, kita tidak lagi terbebani dengan ekspektasi tersebut dan waktu pun terasa lebih cepat walaupun perjalanan pulang dan pergi sama-sama dijebak kemacetan.


Nah, agar perjalanan pergi kita terasa biasa saja, ada baiknya jika kita menikmati saja perjalanan tersebut. Walaupun ada target waktu yang kita tentukan untuk tiba, lebih baik kita pergi di waktu yang lebih awal. Sekian dan terima kasih.

Tuesday, February 14, 2017

Berapa Jam Seharusnya Kita Tidur Dalam Sehari?

Banyak dari kita yang belum tahu berapa lama waktu istirahat yang ideal. Kita biasanya hanya istirahat dengan tidur pada malam hari dari jam 10 atau jam 12 malam sampai subuh yang tergantung dengan wilayahnya masing-masing. Tapi, sebenarnya berapa jam yang dibutuhkan manusia untuk tidur dalam satu hari?

Credit photo: shutterstock.com

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi durasi tidur idealnya bagi manusia. Faktor pertamanya adalah umur. Durasi tidur anak kecil sebenarnya lebih lama dari orang dewasa.  Akan tetapi, zaman sekarang anak kecil pun sudah hobi begadang nonton bola padahal besok paginya dia harus bangun pagi dan bersiap untuk sekolah. Ya, akibatnya ada anak yang suka tidur di kelas karena mengantuk, bukan karena pelajarannya yang membosankan.

Selanjutnya, gaya hidup juga mempengaruhi jam tidur manusia. Bagi yang sudah menjalani gaya hidup sehat, pasti waktu tidurnya bisa teratur dari jam berapa sampai jam berapa. Namun, bagi orang yang bekerja pada malam hari seperti shift satpam di kantor-kantor, mereka akan memerlukan jam tidur tambahan di siang hari, dan juga memerlukan penyesuaian badannya agar bisa terbiasa dengan kegiatan yang menuntutnya untuk tidak tidur pada malam hari layaknya kebanyakan orang.

Selain gaya hidup, pola makan, penyakit yang diderita dan faktor genetik juga mempengaruhi jam tidur kita. Seperti orang yang sakit, akan dianjurkan untuk memperbanyak waktu istirahat daripada biasanya, hingga ia pulih. Jadi intinya, jam tidur manusia sebenarnya tergantung pada faktor-faktor tertentu. Namun, normalnya orang dewasa membutuhkan waktu istirahat 7 hingga 8 jam sehari agar badan kembali segar dan siap untuk melanjutkan aktivitas hariannya.

Namun, sebenarnya apa sih alasan kita tidur? Menurut tayangan di Kokbisa channel, hingga saat ini para peneliti masih mencari jawabannya. Seorang saintis bernama William Dement yang sudah meneliti tidur selama lebih dari 50 tahun menjawabnya dengan jawaban sederhana yang kita semua pun tahu karena beliau belum menemukan jawaban secara sainsnya: kita tidur karena kita ngantuk.


Jadi, bagi kamu yang masih suka begadang, disarankan untuk mengurangi begadangnya karena begadang memangkas waktu istirahat yang dibutuhkan tubuh kita. Kalau kita tidak istirahat dengan cukup, ini akan berpengaruh dengan kegiatan sehari-hari kita seperti mengerjakan pekerjaan kita dengan lesu, tidak bersemangat dan capek bahkan baru lima menit memulai pekerjaan. Semoga ini menjadi informasi yang berguna dan tak lupa, terima kasih.

Kenapa Kita Capek Padahal Sudah Tidur?

Diantara kita pasti sering merasa capek padahal kita sudah tidur. Misalnya saja saat kita sedang pulang kampung dari kota perantauan kita naik mobil, bus telolet atau naik pesawat. Sebagian dari kita pasti suka menikmati perjalanan pulang dan sebagian lagi lebih suka istirahat alias tidur di kendaraan yang kita tumpangi. Akan tetapi, saat kita terbangun, kita masih merasa capek, bahkan seperti kita nggak tidur sama sekali selama di perjalanan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Credit picture: 123rf.com

Sebelum kita bahas masalah diatas, ada baiknya kita membahas soal ritme dan tahapan tidur terlebih dahulu. Menurut tayangan Kokbisa channel, tidur kita memiliki ritme seperti halnya bernapas dan detak jantung kita. Ritme tidur kita atau bahasa kerennya, ultradian sleep cycle, bisa diteliti dengan alat canggih yang dapat membaca gelombang otak manusia. Alat seperti itu tentunya ada di laboraturium saintis, dan mungkin di rumah sakit yang memiliki alat kesehatan yang canggih.
Kemudian, saat kita tertidur dengan alat canggih itu, gelombang otak kita akan terbaca dan akan terlihat ritme yang berulang-ulang. Dalam tiap ritme itu, ada juga tahapan-tahapan tidur yang bisa dibagi menjadi beberapa tahap.

Credit picture: s-cool.co.uk

Tahap pertama, adalah tahap awal tidur atau tahap tidur ayam yang cuma merem melek sebentar. Contoh dari tahapan tidur pertama ini adalah teman kita yang sedang tertidur di kelas atau pejabat yang lagi tertidur saat meeting. Pada tahap ini, aktivitas otot kita melambat,dan begitu juga gerakan bola mata kita.

Kemudian, tahap kedua adalah tahap dimana detak jantung kita melambat daripada saat kita sedang bangun. Selain itu, suhu tubuh kita akan menurun, bola mata akan berhenti bergerak dan kita mulai sulit dibangunkan karena di tahap ini kita akan tertidur lelap.

Lalu, setelah dari tahap kedua, kita akan tertidur pada tahap ketiga, yaitu tidur kita yang benar-benar lelap. Gelombang otak kita menjadi sangat lambat dan badan kita dalam keadaan rileks.

Yang terakhir, tahap REM atau rapid eye movement, dimana tekanan darah kita meningkat, bola mata bergerak sangat cepat dan napas kita menjadi pendek. Gelombang otak kita pun sama aktifnya seperti saat kita terbangun. Tahap ini terasa sangat bertolak belakang dengan tahap ketiga dimana gelombang otak kita lambat dan bola mata pun nyaris tidak bergerak. Hal ini dikarenakan kita sedang aktif bermimpi.

Nah, kembali ke pertanyaan tadi, kenapa kita capek padahal sudah tidur?

Jawabannya adalah di tahap mana kita sedang tertidur. Kalau kita sedang tertidur, lalu naik ke tahap pertama, kemudian naik ke tahap kedua, lalu karena terganggu sesuatu kita terbangun, maka kita akan tetap merasa capek. Jika kita tertidur dan melewati semua tahap yang ada, kemudian terbangun, kita tidak merasa capek. Malah tidur kita akan terasa berkualitas. Makanya itu kita pernah tidur sebentar di siang hari, namun pas bangun kita ngerasa segar banget. Sebaliknya, kita pun pernah tidur malam yang begitu lama dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi tapi badan kita tetap terasa capek. Itu karena kita terbangunnya pada saat ditengah-tengah ritme tidur kita, entah di tahap satu, dua atau tahap tiganya.

Dari penjelasan diatas kita bisa menyimpulkan kalau kita ingin tidur kita berkualitas dan bangun dengan keadaan segar, maka sangat penting untuk memperhatikan ritme tidur kita. Tapi masalahnya kita tidak tahu bagaimana ritme tidur kita saat kita sedang tertidur, karena kita sedang tidak sadarkan diri. Mungkin memang sebaiknya kita mengatur waktu istirahat kita secara teratur agar tubuh kita beradaptasi dan terbiasa, yang nantinya mungkin akan menciptakan tidur yang berkualitas buat kita sendiri. Terima kasih telah membaca dan selamat tidur bagi yang sudah ngantuk. Have a nice dream.


Benarkah Kita Hanya Menggunakan 10% Otak Kita?

Mungkin banyak dari kita yang pernah menonton film Lucy atau ikut seminar motivasi atau membaca artikel internet yang mengatakan bahwa manusia hanya menggunakan 10 persen dari kapasitas otak yang sebenarnya. Kemudian, kalau kita bisa menggunakan 100 persennya dengan optimal dan maksimal, kita dapat melakukan hal-hal yang luar biasa seperti mengetahui isi pikiran orang lain, mengendalikan tubuh orang lain, menjadi sangat pintar melebihi seorang profesor, dan lain-lain. Akan tetapi, benarkah itu?

Credit photo: Google Sites

Dalam sains, hal itu salah besar. Seperti yang ditayangkan di kanal Kokbisa, hasil scan kepala dan MRI menunjukkan bahwa manusia memang menggunakan otaknya setiap saat sepenuh kapasitasnya. Otak adalah pusat kendali dari tubuh kita. Setiap bagian dari otak kita memiliki fungsinya masing-masing. Ada bagian otak yang mengatur indera penglihatan kita, indera peraba kita, indera pengecap, mengatur gerakan tubuh kita, mengatur proses berpikir kita, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan disini. Intinya, segala yang sedang kita lakukan sebenarnya berasal dari otak kita, bahkan gerakan refleks yang tidak kita sadari seperti detak jantung dan ritme bernapas. Jika ada salah satu bagian yang terganggu, maka fungsi dari anggota tubuh kita pun terganggu juga.

Contohnya, ketika seseorang mengalami gangguan otak pada bagian sensor motoriknya. Maka, orang itu akan mengalami kesulitan bergerak, kejang-kejang, atau malah alat gerak seperti tangan dan kakinya mati karena gangguan yang diterimanya. Gejala seperti ini biasa disebut dengan stroke.
Sekarang kita tahu bahwa sebenarnya kita tidak hanya menggunakan 10 persen dari kapasitas otak kita. Dan kita pun sekarang mengerti bahwa kita harus lebih banyak mencari tahu lagi tentang segala sesuatu agar kita tidak terkecoh dengan sebuah fiksi sains. Fiksi sains memang luar biasa, namun kita tidak bisa menelan mentah-mentah informasi yang kita terima tanpa mencari tahu lebih dahulu. Atau diantara kita ada yang ingin membuat fiksi sains menjadi fakta? Selamat mencoba, semoga berhasil dan terima kasih telah membaca.



Apakah Hipnotis Itu Bohongan? Lalu Bagaimana Cara Kerjanya?

Banyak dari kita yang sering menonton acara yang dipandu oleh seorang pesulap atau mentalist. Kita juga sering menonton pertunjukan hipnotis di acara semacam itu. Tentu, bagi kita yang belum pernah mengalami hipnotis atau dihipnotis, kita akan bertanya-tanya apakah itu nyata dihipnotis dan bagaimana cara kerjanya.

Gambar: Vectorstock.com

Menurut tayangan di kanal Kokbisa, ternyata hipnotis yang kita tonton bukan benar-benar sepenuhnya hipnotis. Pertunjukan orang yang dihipnotis pada acara seperti itu hanyalah hipnotisme panggung saja yang bertujuan untuk menghibur penonton. Ya, setelah kita menonton acaranya, orang yang dihipnotis melakukan apa yang diperintahkan mentalisnya atau membeberkan rahasia konyolnya, kita merasa senang, bukan?

Walaupun hanya hipnotis untuk pertunjukan, bukan berarti semua hipnotis bohong-bohongan. Bahkan sebenarnya hipnotis di televisi menggunakan prinsip-prinsip hipnotisme. Namun, sebenarnya hipnotis itu adalah kondisi psikologis dimana kita sedang berada dititik fokus paling tinggi. Pada saat itu, konsentrasi kita terhadap sesuatu sangat tinggi sehingga kesadaran kita terhadap apa yang ada di sekitar kita berkurang.

Gambar: shutterstock.com

Kalau diambil contoh seperti biksu yang sedang bertapa, mungkin tidak akan banyak yang mengerti. Bagaimana dengan contoh ketika kamu sedang konsentrasi dengan buku pelajaran yang kamu baca sehingga kamu pun tidak menyadari kalau ada seekor nyamuk yang hinggap di kaki kita. Pada saat seperti itu, berarti kamu sedang dihipnotis dengan buku pelajaranmu sendiri, atau kamu sedang menghipnotis dirimu sendiri dengan membaca buku pelajaran. Kira-kira seperti itu.

Dulu, hipnotis sering kali dikaitkan dengan ilmu perdukunan. Akan tetapi, seorang dokter bernama Franz Anton Mesmer mempraktikkan hipnotis dengan cara ilmiah untuk menyembuhkan pasiennya. Ilmu pengetahuan tentang hipnotis pun terus berkembang, hingga akhirnya sekarang di dunia medis pun penyembuhan pasien ada yang menggunakan terapi hipnotis. Karena hipnotis ternyata dapat merangsang bagian otak kita yang dapat membuat kita mengubah cara berpikir kita dari yang biasa menjadi lebih baik.

Hipnotis sebenarnya tidak membuat kita benar-benar tidak sadar hingga bisa diperintahkan ini itu oleh yang menghipnotis kita. Hipnotis hanya akan memberikan efek tidur palsu. Walaupun banyak mitos dan pendapat negatif tentangnya, hipnotis ini sebenarnya baik buat kita sendiri jika memang digunakan untuk hal-hal baik seperti membuat kita yang keras kepala menjadi menerima saran orang lain, menenangkan pikiran, mengatasi susah tidur, mengurangi kebiasan buruk dan lain-lain.


Walaupun demikian, efek hipnotis hanya bisa dirasakan kalau kitanya memang punya niat untuk berubah. Tetapi, kita harus waspada juga dengan tukang-tukang tipu dan perampok yang menemui kita dengan cara menghipnotis. Jadi, semoga kita bisa membedakan mana hipnotis yang bermanfaat buat kita dan mana hipnotis yang merugikan kita. Sekian dan terima kasih.

Thursday, February 09, 2017

Kenapa Kita Bisa Ketindihan Saat Tidur? (Sleep Paralysis)

Mungkin beberapa dari kita pernah mengalami ketindihan. Ketindihan biasanya terjadi saat kita sedang tidur, tapi tiba-tiba kita terbangun. Fenomena ini biasanya ditandai dengan badan kita yang tidak bisa digerakkan. Kemudian, bagi kita yang punya “indera tambahan”, kita akan melihat sesuatu atau lebih tepatnya makhluk halus. Bukan makluk halus yang kecil-kecil, melainkan makhluk astral. Kalau nenek kita bilang, ketindihan terjadi karena ada makhluk astral yang sedang mengganggu kita saat tidur. Dan kita harus cepat-cepat dibangunkan dengan mengguncang-guncangkan badan jika kita mengalami ketindihan. Namun sebenarnya, kenapa ketindihan ini bisa terjadi?

Gambar: braindecoder.com

Sebenarnya secara sains, fenomena ini sering terjadi. Ketindihan atau nama kerennya sleep paralysis, dan 20 hingga 45 persen dari manusia pernah mengalaminya. Menurut tayangan di kanal Kokbisa, sleep paralysis terjadi karena kita terbangun dalam fase tidur kita. Fase tidur kita bertingkat-tingkat dalam satu masa tidur, yaitu, fase tidur pertama, kedua, ketiga, dan REM (Rapid Eye Movement).

Sleep paralysis terjadi ketika kita terbangun pada fase REM, dimana di fase tersebut kita sedang bermimpi. Dalam fase ini juga, otak kita yang sedang bermimpi mengistirahatkan otot-otot anggota badan kita dengan cara paralysing atau pelumpuhan sementara. Oleh karena itu, ada saat kita dimana kita tidak bisa menggerakkan anggota gerak kita saat sedang bermimpi. Yah, kalau otak kita tidak melakukan paralysing, mungkin kita akan tidur sambil berlari saat kita mimpi dikejar anjing galak.

Kembali ke sleep paralysis, dalam fase REM tersebut dan sedang bermimpi, tiba-tiba kita terbangun dari tidur. Entah karena ada bunyi debum di atas loteng yang mengejutkan kita ataupun ada suara klakson telolet yang dipencet oleh supir iseng. Pada saat kita terbangun, mata kita melek, kita sadar, namun kita tidak bisa menggerakkan anggota badan kita. Lalu ditambah lagi, ada sosok aneh yang kita lihat di samping kita. Sungguh menyeramkan. Padahal yang kita lihat tersebut adalah sosok yang ada di bawah alam sadar atau dalam mimpi kita, namun terbawa oleh otak kita ke dunia nyata yang dipantulkan oleh mata kita.

Ternyata sleep paralysis nggak hanya terkenal di Indonesia saja, tetapi juga terkenal di mancanegara. Di Skandinavia, sleep paralysis dipercaya sebagai ulah iseng makhluk astral bernama Mare. Selain itu, suku Eskimo mempercayai bahwa sleep paralysis adalah fenomena dimana arwah manusia tidak bisa kembali ke tubuhnya. Dan masih banyak lagi mitos tentang sleep paralysis di negara lain.


Jadi buat kamu yang sering mengalami ketindihan, jangan takut, jangan gundah. Setidaknya kita sudah tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Ikuti saja saran dari nenek kita dan meminta teman kita untuk membangunkan kita saat kita sedang terkena sleep paralysis. Saran lainnya adalah dengan tidur menghadap ke sebelah kanan. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah membaca.

Kenapa Manusia Bermimpi Saat Tidur?

Pada waktu sedang tidur malam, umumnya kita sering bermimpi. Mimpinya juga bisa bermacam-macam; ada yang mimpinya bahagia, ada yang mimpinya sedih, ada yang ketakutan dikejar buaya, ada yang nggak karuan alurnya, dan ada juga yang mimpinya romantis. Lalu, ketika pagi harinya, kita tidak bisa mengingat keseluruhan mimpi tadi malam. Jadi, kalau memang tidak bisa lagi mengingatnya pada saat bangun tidur, mengapa kita bermimpi? Dan kenapa mimpi itu nggak bisa diingat semuanya?

Gambar: shutterstock.com

Berdasarkan tayangan di channel Kokbisa, ada sebuah pendapat yang dikemukakan oleh Sigmund Freud bahwa mimpi terbentuk dari harapan-harapan terpendam kita sendiri yang muncul dalam mimpi kita. Lalu, kemudian pada tahun 1950-an, para peneliti mengemukakan bahwa mimpi merupakan efek samping dari proses otak kita. Otak kita terus beraktivitas walaupun kita sedang tertidur. Hal ini didukung oleh alat canggih yang dapat meneliti gelombang otak manusia.

Saat tidur, ternyata otak kita tidak benar-benar beristirahat seperti kita yang istirahat dari aktivitas kita. Otak kita ternyata merajut memori  dari kejadian-kejadian yang pernah kita alami. Memori-memori tersebut masuk ke alam bawah sadar kita dan menjadi mimpi yang kita alami selagi tidur. Memorinya pun terkadang tidak saling berkaitan dan itu yang membuat mimpi kita kadang-kadang terasa aneh.

Pada saat kita bangun tidur, kita pun tidak bisa mengingat seluruh mimpi yang kita alami. Hal ini terjadi karena pada saat kita bermimpi, memori kita terpisah antara memori jangka pendek dan jangka panjang. Saat bermimpi, memori jangka pendek kita lebih aktif daripada memori jangka panjang. Itulah sebabnya saat kita bangun, kita masih mengingat mimpi kita, namun lima atau sepuluh menit kemudian, kita akan lupa semuanya.

Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa mimpi kita yang alurnya tidak berkaitan dalam satu masa tidur membuat kita tidak bisa mengingat mimpi tersebut. Dan oleh karena itu, kita juga tidak benar-benar bisa melanjutkan mimpi yang sama setelah kita terbangun sebentar. Makanya, sabar saja kalau kamu sedang mimpiin gebetan kamu, namun kamu tiba-tiba terbangun karena ada gempa bumi, lalu kemudian kamu nggak bisa melanjutkan mimpiin gebetan kamu.


Walaupun sering kelupaan, bermimpi ternyata baik untuk kita. Diantaranya adalah dapat meningkatkan daya ingat, meredam emosi kita dan juga dapat menghilangkan stres. Jadi, buat kamu yang sedang bermimpi, selamat menikmati mimpimu dan kalau bisa wujudkan saja menjadi kenyataan agar hidupmu menjadi lebih indah. Sekian, dan terima kasih.