Showing posts with label linguistik. Show all posts
Showing posts with label linguistik. Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Apa bedanya “Have Been To” dan “Have Gone To”?



Hm, sudah lama banget ya Miss Rizu nggak mencatat learning log disini. Setahun. Selama setahun, banyak yang Miss Rizu pelajari, baik di bidang perbahasaan (?) maupun di bidang ilmu lainnya. Kali ini, untuk menyegarkan kembali blog yang telah lama tidak update, Miss mau catat tentang “Have Been To” dan “Have Gone To”. Yak, tentang tenses, khususnya Present Perfect Tense.

Perfect.

Pasti banyak yang mengira maksud perfect ini adalah sempurna. Memang benar, tapi perfect lebih merujuk kepada kegiatan yang telah selesai dilakukan. Mau hasil kegiatannya itu hancur atau sempurna, istilah dalam English Grammar itu tetap “perfect”. You have completed that thing.

Jadi, Present Perfect Tense itu menggambarkan kegiatan yang sudah atau pernah terjadi, atau barusan selesai dilakukan. Jadi, kalau dalam terjemahannya ke Bahasa Indonesia, kata kuncinya itu “sudah”, “pernah”, “baru saja”, dan untuk bentuk kalimat negatifnya “belum”.

Sebenarnya Present Perfect Tense sering membuat bingung siswa Miss dan Miss sendiri kalau enggak jeli dengan keyword atau kata kunci keterangannya. Okelah, dengan keterangan, mampulah kita membedakannya. Namun jika tidak ada keterangannya? Hanya pattern S-V-O? Ya, kita perlu membedah makna kalimatnya, atau konteks yang tersedia jika sebelum kalimat itu ada pertanyaan atau berbentuk percakapan. Oke, untuk bahasan soal Perfect Tenses lebih lanjut, akan dibahas di postingan lain.

Kembali ke judul utama,

Jadi, saat membahas tentang Present Perfect Tense, Miss dihadapkan sebuah persoalan yang luput dari perhatian padahal penting, yaitu tentang “Have Been To” dan “Have Gone To”. Saat pertama melihat contoh kalimat yang menggunakan kedua macam Predikat itu, kayaknya artinya sama. Tetapi, wait, setelah dipahami dari percakapan yang tertera, ternyata ada perbedaan makna.

Bedanya “Have Been To” dan “Have Gone To”

Bisa dibilang, “Have Gone To” itu dari:
I go to Jakarta
I went to Jakarta
I am going to Jakarta
I was going to Jakarta
I will go to Jakarta
I have gone to Jakarta

Tapi kalau “Have Been To”?
I am to Jakarta
I was to Jakarta
I am being to Jakarta
I have been to Jakarta...?

Terdengar janggal.

Hm, dengan keterbatasan pengetahuan Miss, kayaknya I can’t figure out darimana “Have Been To” itu. Jadi bisa disimpulkan “Have Been To” nggak serelevan itu, nggak bisa “diterjemahkan” ke tenses lain semudah “Have Gone To”. Kalau ada yang mau bantu menjelaskan secara linguistik, mari, diterima penjelasannya di komentar.

Dengan contoh kalimat yang diberikan:
A = Are you going to the canteen?
B = No, I have been to the canteen. I got 2 fries and coffee milk for us. Here.
A = Oh, thank you.
B = No problem. I understand you had a hard time to finish that task and you might get nothing when you got there at this time.
A = Ahaha, how nice you are, man.
B = Anyway, where’s Kayla? I want to return her book.
A = I am not sure. I think she has gone to the library. That nerdy girl. You like her?
B = What are you talking about? She’s my cousin.
A = Who knows.

Dari makna percakapan diatas, mungkin kita bisa tarik kesimpulan kalau “ Have Been To” dan “Have Gone To” sama-sama membicarakan tentang kunjungan seseorang ke suatu tempat, tetapi dengan perbedaan:

1. Have Been To

Have Been To digunakan untuk membicarakan kunjungan seseorang ke suatu tempat, yang sudah selesai kunjungannya, dan orangnya SUDAH KEMBALI. Have Been To bisa juga untuk ngomongin tempat yang pernah dikunjungi selama hidup, tapi orangnya SUDAH ENGGAK TINGGAL DISANA LAGI alias sudah pindah.

2. Have Gone To

Have Gone To digunakan untuk membicarakan kunjungan seseorang ke suatu tempat, dan dia BELUM PULANG. Which means, kunjungannya BELUM SELESAI DAN DIA BELUM PULANG.

Jadi, kalau dibedah makna contoh kalimat diatas tadi:

1. I have been to the canteen
Artinya, “Saya barusan ke kantin”, lebih dalam lagi maknanya “Saya barusan dari kantin, dan sekarang aku SUDAH KEMBALI ke kelas.”

2. She has gone to the library
Artinya, “Dia sudah pergi ke perpustakaan”, atau lebih dalam lagi, “Dia sudah cus ke perpus dan BELUM KEMBALI ke kelas hingga saat percakapan ini berlangsung.”


Oke, jadi kita ambil contoh kalimat lebih simpel yang identik.
1. I have been to Jakarta.
2. I have gone to Jakarta.

Makna kalimat yang nomor (1) itu, artinya “Saya pernah tinggal di Jakarta”, yang artinya lagi, “Saya pernah disana, tapi SEKARANG ENGGAK LAGI. Saya SUDAH TINGGAL disini sekarang.”

“Ya, disini. Di hatimu.”

Oke, kembali ke topik utama.

Makna kalimat nomor (2) itu, artinya “Saya sudah ke Jakarta”, yang artinya lagi, “Saya sudah cus ke Jakarta, dan SEKARANG LAGI ENGGAK DISINI, dan aku BELUM PULANG.”

“Jadi, tunggu aku sampai pulang, ya.”


Bagaimana, sudah dapat perbedaannya?

Monday, July 10, 2017

Kenapa Bahasa Jepang Menggunakan Tulisan Kanji?

Tertarik dengan bahasa Jepang?

Buat yang tertarik dengan bahasa Jepang, pasti mengenali kalau bahasa yang satu ini cukup unik dalam segi tulisannya. Jika kita melihat teks lirik dari sebuah lagu Jepang, kita akan menjumpai karakter yang bikin kita bingung bagaimana cara membacanya. Bagi yang sudah belajar sedikit dasarnya, kita akan mengenali di dalam sebuah teks bahasa Jepang ada tiga jenis tulisan yang digunakan yaitu hiragana, katakana dan kanji.

Hiragana dan katakana cukup mudah dikenali, namun lumayan sulit untuk dihafal dalam sehari. Kedua jenis tulisan ini mewakili satu bunyi pada masing-masing karakternya. Bedanya hiragana an katakana adalah hiragana digunakan untuk menulis kata-kata yang asli dari bahasa Jepang, dan katakana umumnya digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari serapan bahasa asing, nama orang asing, dan judul-judul buku, film, anime, lagu, dan lain-lain. Selain itu, coretannya lebih simpel daripada jenis tulisan ketiga dalam bahasa Jepang, yaitu kanji.

Tulisan kanji sejatinya adalah simbol yang mempunyai satu makna tetapi cara membacanya bisa berbeda-beda tergantung konteks dalam kalimatnya. Bahkan orang Jepang sendiri belum tentu tahu satu simbol kanji bisa dibaca apa saja saking banyaknya. Kanji juga memiliki tulisan yang lebih kompleks daripada hiragana dan katakana, yang bahkan orang Jepang belum tentu bisa menuliskannya dengan tulisan tangan. Jumlah tulisan kanji yang digunakan dalam bahasa Jepang ada 2.136 karakter.

Nah, lalu, kenapa dalam bahasa Jepang sampai menggunakan tiga jenis tulisan seperti itu?

Menurut Yuta, ada beberapa sebab mengapa bahasa di negaranya menggunakan tiga tulisan. Salah satu sebabnya adalah readibility atau dapat dibaca. Jika sebuah kalimat bahasa Jepang hanya dituliskan dalam tulisan hiragana, mereka akan sangat mudah membacanya, akan tetapi membingungkan, sulit dimengerti apa maksud dari kalimat tersebut.

1.) Teks bahasa Jepang yang ditulis hanya dalam hiragana.
----


2.) Teks bahasa Jepang yang ditulis dengan menggunakan hiragana, katakana dan kanji.
-----
3.) Diberi warna agar bisa dibedakan. 
Sumber: That Japanese Man Yuta

Berbeda dengan sistem tata cara penulisan dalam bahasa Indonesia dan banyak bahasa lainnya yang menggunakan alfabet, bahasa Jepang tidak menggunakan spasi untuk memisahkan kata per kata. Jadi, penggunaan tiga tulisan dalam bahasa Jepang itu dapat membedakan antara satu kata dan kata lainnya sehingga akan lebih mudah dibaca dan dimengerti.

Sebab kedua yang diutarakan Yuta adalah untuk menghindari kesalahan makna dari kata yang memiliki cara pengucapan yang sama.

Kata-kata dalam bahasa Jepang banyak yang homofon dan homograf. Kalau dalam bahasa Indonesia, kata “bisa” mempunyai dua makna, bisa dalam arti dapat atau mampu dan bisa dalam arti racun ular, dalam bahasa Jepang kita akan banyak menjumpai kata dengan bunyi dan tulisan yang sama dalam hiragana, tetapi memiliki lima atau lebih arti yang berbeda! Wow.

1.) Kosakata dalam bahasa Jepang yang homofon dan homograf jika ditulis dalam hiragana.
----- 
2.) Kosakata homofon/homograf yang ditulis dengan tulisan kanji. 
------
 3.) Kosakata serapan bahasa asing yang homofon.
Sumber: That Japanese Man Yuta


Ya, sebenarnya kosakata dalam bahasa Jepang tidaklah sekaya kosakata bahasa Inggris atau bahasa Indonesia karena sebab-sebab linguistik yang tidak bisa dijelaskan disini.

Kembali ke soal homofon dan homograf, oleh karena itu tulisan kanji dapat membedakan kata yang memiliki bunyi atau cara baca yang sama. Karena kanji adalah simbol yang mempunyai makna tersendiri berdasarkan sejarahnya, maka kanji dapat membedakan makna satu kata walaupun cara bacanya sama.

Lalu, kenapa kata-kata dalam bahasa Jepang banyak yang homofon?

Menilai dari writing system yang digunakan dalam bahasa Jepang, pastinya kita dapat menduga kalau ini disebabkan karena banyak kata-kata yang mereka serap dari bahasa Mandarin/Cina. Tidak hanya itu, kata dalam bahasa Inggris yang diserap ke bahasa Jepang juga ada yang homofon dan homograf dalam bentuk tulisan katakana. Misalnya “light” dan “right”.

Jadi, kenapa dalam bahasa Jepang banyak sekali tulisan kanjinya? Apa nggak bisa dikurangi? Kan kita mau belajar bahasa Jepang, tapi kalau tulisannya banyak dan susah banget diingat gitu sampai kapan baru bisa menghafalnya?

Kata Yuta, sebenarnya tulisan kanji dalam bahasa Jepang sudah dikurangi dari masa ke masa. Bahkan tulisan kanji Jepang zaman sekarang sudah lebih sederhana ketimbang kanji Jepang berabad-abad yang lalu. Selain itu, seorang ahli bahasa bernama John C Pelzel mencoba membuat romaji atau latinisasi bahasa Jepang, namun hasilnya tidak seakurat sebagaimana cara pelafalan semestinya dalam writing system bahasa Jepang.

Selain itu, Yuta juga mengungkapkan sebab lain mengapa tulisan kanji tidak bisa dihapuskan dalam bahasa Jepang. Yang pertama adalah masalah integritas sejarah yang berkaitan dengan Jepang itu sendiri. Menurutnya, jika tulisan kanji benar-benar dihapus, orang Jepang kekinian tidak akan bisa membaca dokumen sejarah dan buku-buku jadul mereka. Hal ini otomatis akan memutuskan hubungan antara sejarah negeri mereka dan orang modern yang kekinian hanya karena tulisan kanji dihapuskan dan tidak dipelajari lagi.

Sebab keduanya adalah fungsi semantik dalam ungkapan-ungkapan bahasa Jepang yang sering dijumpai dalam tulisan. Kita ambil contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia seperti metafisika atau metagenomika. Bagi kita yang baru saja menemukan kedua kata itu, kita mungkin bisa mengira-ngira apa maknanya dengan mengartikan meta dan fisika, misalnya. Begitu juga hal yang berlaku dalam bahasa Jepang. Tulisan kanji dapat membantu mereka menduga makna kata atau ungkapan yang baru saja ditemukan dalam sebuah teks.

Dengan tulisan kanji, pembaca dapat mengira-ngira makna dari kata/ungkapan tersebut.
Sumber: That Japanese Man Yuta

Selanjutnya adalah ekspresi dalam menulis. Jika kita menemukan sebuah tulisan berbahasa Jepang yang full ditulis dalam tulisan hiragana, kita bisa menduga tulisan tersebut seperti ditulis oleh seorang anak kecil yang belum hafal katakana dan kanji. Tapi, kalau kita menemukan teks yang ditulis full dalam tulisan katakana justru kelihatannya seperti diketik oleh robot.

Hm, kedengarannya rumit sekali untuk benar-benar menghapus penggunaan tulisan kanji dalam bahasa Jepang, ya?

Selanjutnya Yuta mengungkapkan sebab terakhir yang mengapa bahasa Jepang menggunakan tulisan kanji dan tidak bisa semudah itu ditiadakan adalah keterikatan antara orang Jepang itu sendiri dengan identitasnya sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan yang indah dan unik. Tulisan kanji merupakan unsur dari salah satu kebudayaan mereka, bahasa mereka. Jadi, jika sudah ada keterikatan antara masyarakat dan budayanya, pastilah ini jadi identitas mereka dan tidak bisa dihapuskan begitu saja dengan mudah.

Wuah, ternyata kalau sudah terikat, sudah cinta, akan susah dilepas walaupun tulisan kanji itu sulit dipelajari, bahkan bagi masyarakat Jepang sendiri.


Bagaimana dengan kita dengan budaya Indonesia kita? Adakah kita secinta masyarakat Jepang dengan kebudayaan mereka?

Thursday, May 11, 2017

Negara-Negara Dengan Bahasa Tutur Paling Banyak

Beberapa dari kita mungkin mengira hanya kita yang berasal dari negara yang memiliki banyak bahasa. Sementara orang lain di luar Indonesia berasal dari negara yang hanya ada satu bahasa, misalnya hanya bahasa Inggris atau bahasa Perancis. Padahal, jika ditelusuri lebih teliti lagi, ada negara yang memiliki lebih banyak bahasa daripada Indonesia raya. Negara-negara apa sajakah yang memiliki keragaman bahasa?

ilustrasi: easylanguagecourse.com

Berdasarkan tayangan di LangFocus, inilah daftar 5 negara yang mempunyai bahasa tutur paling banyak.

1. Papua Nugini
Papua Nugini memiliki sedikitnya 820 bahasa. Sebabnya adalah penduduknya yang sangat terisolasi dari satu desa ke desa lainnya. Papua Nugini mempunyai geografis yang ekstrim, dengan pegunungan dan lembah yang curam yang membuat dari satu daerah ke daerah lainnya sulit dijangkau. Oleh karena itu, penduduk satu daerah dengan daerah lainnya memiliki bahasa yang berbeda. Bahkan sangat banyak bahasa yang tidak memiliki kesamaan antara bahasa satu kampung dengan bahasa kampung sebelahnya. Walaupun begitu, ada 3 kategori bahasa yang membuat bahasa di Papua Nugini begitu beragam.

Yang pertama adalah bahasa Austronesian yang sampai di Papua Nugini sekitar 3500 tahun yang lalu. Kemudian ada kategori bahasa Papua, bahasa asli yang muncul di Papua itu sendiri sebelum masuknya bahasa Austronesian. Kategori bahasa Papua sendiri terdiri dari banyak rumpun bahasa yang berbeda secara linguistik. Banyak bahasa dalam kategori bahasa Papua itu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasa serumpunnya. Selain itu, ada juga bahasa yang memang tidak memiliki rumpun atau hubungan sama sekali dengan bahasa-bahasa lain yang ada di dunia. Yang terakhir adalah bahasa asing dan creole yang juga mempengaruhi beragamnya bahasa di Papua Nugini.

Papua Nugini memiliki 3 bahasa resmi. Yang pertama adalah Bahasa Inggris, tetapi bahasa Inggris hanya dipakai oleh 1 hingga 2 persen dari penduduk di Papua Nugini. Bahasa Inggris digunakan dalam bidang bisnis dan juga dalam beberapa keadaan digunakan dalam sektor pendidikan juga sebagai bahasa pengantar. Akan tetapi, kalau hanya 1 atau 2 persen yang menggunakan bahasa Inggris, maka pendidikan akan susah ditransfer ke siswa, deh.

Kemudian, bahasa resmi kedua di Papua Nugini adalah Tok Pisin. Tok Pisin adalah bahasa yang paling banyak digunakan dan berfungsi sebagai lingua franca yang perannya sangat penting dalam kehidupan sosial di negara yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa ini sebenarnya adalah bahasa Inggris creole. Bagi yang bingung apa itu creole, akan kita bahas nanti saja, ya. Tok Pisin banyak digunakan di bagian selatan Papua Nugini.

Yang terakhir adalah bahasa Hiri Motu. Hiri Motu adalah bahasa Motu creole yang sudah disederhanakan. Bahasa Motu sendiri adalah salah satu bahasa dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini mulai jarang digunakan karena penggunaan bahasa Tok Pisin dan Bahasa Inggris yang lebih dikenal luas daripada bahasa Hiri Motu.

2. Indonesia
Ya, negara kita ada di urutan kedua sebagai negara yang memiliki bahasa paling banyak di dunia. Menurut LangFocus, jumlah bahasa yang ada di Indonesia ada sekitar 740 bahasa. Akan tetapi, syukurlah negara kita punya satu bahasa pemersatu bangsa (lingua franca) yang kita kenal bernama Bahasa Indonesia.

3. Nigeria
Nigeria memiliki 516 bahasa, namun Bahasa Inggris berperan sebagai lingua franca di negara tersebut.

4. India
India memiliki 427 bahasa dengan lingua franca bahasa Hindi dan bahasa Inggris.

5. Amerika Serikat
Amerika Serikat, negara dengan wilayah paling luas hanya memiliki 311 bahasa jika dibandingkan dengan negara kecil seperti Papua Nugini. Mengejutkan, bukan? Keragaman bahasa di Amerika Serikat berasal dari 100 lebih bahasa pribumi dan bahasa-bahasa yang digunakan oleh para imigran yang tinggal di Amerika Serikat.


Mind blowing nggak sih dengan juara satunya? Semoga ini jadi menambah pengetahuan kita. Terima kasih.

Saturday, April 22, 2017

Penggunaan Kata Kerja Beraturan (Regular Verbs) Pada Simple Past Tense



Seperti yang sudah kita ketahui, Simple Past Tense adalah tenses dalam Bahasa Inggris yang menyatakan kegiatan yang dilakukan pada waktu lampau (kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu, dst) dan sudah selesai atau tidak lagi dilakukan. Untuk membentuk kalimat sederhana dalam Bahasa Inggris yang berbentuk past tense, kita memerlukan verb atau kata kerja bentuk kedua atau bentuk past. Verb dalam Bahasa Inggris juga ada dua jenis, yang pertama adalah kata kerja tidak beraturan atau irregular verbs, yang mau nggak mau harus dihafal karena bentuk perubahannya dari infinitive ke bentuk past tense maupun past participle-nya tidak beraturan.

Jenis verb yang kedua adalah kata kerja beraturan atau regular verb. Berbeda dengan irregular verbs, regular verb bentuknya cenderung bisa diterka dari bentuk infinitive ke bentuk past tense maupun past participle-nya dengan beberapa pengecualian. Tapi, sebelum membahas tentang kata kerja beraturan ini, mari kita review sedikit pengetahuan kita tentang simple past tense.

Sekurang-kurangnya, simple past tense dibentuk dengan subjek + verb bentuk past. Sebelum kita mengetahui verb bentuk past, kita sebaiknya tahu dulu bagaimana bentuk infinitive dari verb tersebut. Sebentar, infinitive itu apa, sih?

Infinitive adalah bentuk dasar dari kata kerja dalam Bahasa Inggris. Kalau kita melihat di kamus, kita akan menemukan kata berikut:
to look,
to see,
to talk,
to help,
dan lain-lainnya.

Yang akan kita gunakan dalam membentuk kalimat past tense adalah infinitive tanpa “to” didepannya. Jadi kita akan mengambil look, see, talk, help, dan lain-lain. Oh, ya. Dalam beberapa kondisi, verb juga mempunyai imbuhan “–s” atau “–es ” di belakang bentuk dasarnya. Misalnya helps dalam kalimat present tense untuk orang ketiga tunggal “she helps”. Untuk mendapatkan infinitive dari helps, kita hanya perlu membuang akhiran “–s”, dan jadilah infinitive help.  Dalam pembahasan Simple Past Tense ini, mari kita gunakan regular verbs saja. Misalnya, kita akan memakai kata walk:

I walk.
Infinitive dari walk adalah walk. Untuk mengubahnya menjadi past tense verb, kita hanya perlu menambahkan “–ed” di belakang infinitive tersebut sehingga menjadi walked.
I walked to a coffeeshop last night.

Contoh lainnya:
He passes.
Infinitive dari passes adalah pass. Akhiran “–es” harus dihilangkan dalam konteks ini untuk mendapatkan infinitive verb nya. Lalu, untuk mengubahnya menjadi past tense verb, kita harus menambahkan “–ed” di belakang infinitive pass sehingga menjadi passed.
Yesterday he passed his entrance exam.

Contoh lainnya:
She works.
Infinitive dari works adalah work. Akhiran “–s” harus dibuang untuk mendapatkan infinitive verb dari kalimat singkat diatas. Lalu, untuk membuat kata work menjadi verb past tense, kita perlu menambahkan “–ed” di belakang infinitive work, menjadi worked.
Yuki worked at the minimarket last year.

Walaupun tampaknya tidak sulit menggunakan kata kerja beraturan dalam past tense, namun kita harus hati-hati. Karena ada beberapa pengecualian dalam penambahan –ed pada kata kerja beraturan. Jadi, intinya aturan infinitive ditambah “–ed” tidak selalu berlaku.

Pengecualian #1:
Infinitive yang sudah berakhiran “–e” tidak perlu ditambah “–ed”, tetapi cukup tambahkan “–d” saja. Contohnya:
She changes her hairstyle.
Infinitive dari changes adalah change, yang berakhiran huruf “–e”. Maka, untuk mengubah infinitive tersebut menjadi verb untuk past tense, kita hanya perlu menambahkan huruf “–d” saja.
She changed her hairstyle yesterday.

Pengecualian #2:
Infinitive yang hanya mengandung satu suku kata dan berakhir dengan huruf konsonan. Contohnya kata stop. Jika kita ingin membuatnya menjadi kata kerja bentuk past tense, kita harus menggandakan huruf konsonan terakhir dan menambahkan “–ed” di belakangnya.

I stop.
Infinitive-nya mengandung satu suku kata saja dan berakhir dengan konsonan “p”. Maka, bentuk past tense verb-nya adalah stop + konsonan p + akhiran –ed, menjadi stopped.
I stopped a taxi.

Sama halnya terjadi pada contoh berikut:
They plan to go to beach.
Infinitive plan hanya mengandung satu suku kata dan berakhir dengan konsonan. Maka bentuk past tense verb-nya adalah plan + konsonan n + akhiran –ed, menjadi planned.
They planned to go to beach yesterday.

Pengecualian #3:
Infinitive yang diakhiri dengan huruf “–c” harus ditambahkan “–ked untuk dijadikan verb past tense. Contohnya adalah kata panic, yang berakhiran dengan huruf –c. Untuk mengubahnya menjadi verb past tense, infinitive panic harus ditambahkan dengan akhiran –ked, menjadi panicked.
People panic.
People panicked yesterday.

Pengecualian #4:
Infinitive yang diakhiri dengan huruf “–y”. Huruf “–y” yang mengakhiri verb harus diubah menjadi “–i”. Kemudian, tambahkan “–ed”. Contohnya:
She carries.
Infinitive dari carries adalah carry, yang berakhiran dengan huruf “–y”. Untuk mengubah carry menjadi verb bentuk past tense adalah dengan mengubah “–y” menjadi “–i”, kemudian ditambah “–ed”, sehingga membentuk carried.

Sekarang kita sudah tahu bagaimana menggunakan kata kerja beraturan dalam simple past tense, tapi kapan sajakah simple past digunakan?

1. Ketika sesuatu sudah terjadi di masa lalu dan sudah selesai.
Contohnya: A few years ago I worked in the supermarket. Maksud kalimat itu adalah beberapa tahun yang lalu bekerja di supermarketnya terjadi, dan sekarang sudah tidak bekerja di supermarket lagi.

2. Ketika kita menerangkan suatu waktu di masa lalu.
Contohnya: We lived in England in 1995. Maksud dari kalimat tersebut adalah “kita” pernah tinggal di Inggris tahun 1995 dan sekarang tidak lagi disana.

3. Ketika menyatakan suatu kebiasaan di masa lalu yang sekarang tidak lakukan lagi.
Contohnya: I collected stamps when I was a child. Maksudnya “saya” mengkoleksi perangko waktu kecil, tetapi sekarang tidak lagi.

4. Ketika kita ingin bercerita fiksi maupun menceritakan pengalaman kita.
Contohnya: Long ago, there was a farmer who lived in a small village.

Bagaimana? Sudah bisakah kita membuat kalimat past tense yang sederhana saja?


Sunday, February 19, 2017

Kenapa Orang Melakukan Code-Switching?

Di postingan sebelumnya, kita sudah membahas tentang apa itu code-switching, yang ternyata tanpa kita sadari kita lakukan sehari-hari. Tentu saja, ada alasan mengapa orang-orang atau kita sendiri melakukannya. Mungkin kitanya sih, nggak sadar ya kenapa kita melakukannya tapi kita lakukan begitu saja. Dari tayangan Langfocus yang dibawakan oleh Paul, kita bisa menyimpulkan beberapa alasan mengapa orang melakukannya.

credit photo: emaze.com

Alasan pertama orang melakukan code-switching adalah untuk membicarakan soal rahasia. Ketika kita ingin membicarakan sebuah rahasia, namun ada orang lain yang ada di sekitar kita dan kita tidak ingin mereka mendengarnya, kita akan mengubah bahasa kita dengan bahasa lain yang mungkin tidak semua orang mengerti. Misalnya, kita awalnya ngobrol pakai Bahasa Indonesia dengan teman kita, lalu karena kita dan teman kita bisa bicara Bahasa Sunda dan topik yang kita bicarakan makin sensitif, kita mengubah bahasa pengantar kita dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Sunda.

Sebaliknya, kita berganti bahasa juga karena ingin orang lain mengetahui apa yang sedang kita katakan. Misalnya, awalnya kita bicara dengan Bahasa Aceh dengan kawan di sebelah kiri kita. Kemudian, kawan di sebelah kanan kita adalah siswa pindahan dari Padang yang tidak mengerti Bahasa Aceh. Otomatis, karena dia nimbrung dalam obrolan dan tidak sopan jika kita cuekin saja, kita mengubah bahasa obrolan dari Bahasa Aceh ke Bahasa Indonesia yang dimengertinya.

Alasan selanjutnya adalah untuk mengekspresikan sesuatu yang menjadi bagian dari identitas orang. Hal ini bisa jadi diucapkan oleh orang si pemilik identitas itu atau lawan bicara si pemilik identitas itu. Misalnya, ada seorang koki asal Italia yang bekerja di Indonesia. Koki itu bisa bicara Bahasa Indonesia dan Bahasa Italia. Lalu, ada seorang pelanggan orang Indonesia restorannya yang memuji masakannya dengan kalimat, “Chef, pizza buatanmu numero uno! Enak banget!”. Dari kalimat itu kita bisa mengidentifikasi kosakata Bahasa Inggris “chef” yang berarti koki yang merupakan panggilan untuk si koki Italia. Kata itu jelas menyatakan identitas si koki sebagai koki. Kemudian, kita menemukan frase “numero uno” yang artinya nomor satu dalam Bahasa Italia. Mungkin dengan frase ini si pelanggan ingin membuat si koki merasa bangga atas identitas asal Italianya.

Alasan yang lain adalah untuk mengekspresikan gagasan yang tidak bisa diekspresikan dalam bahasa dominan yang sedang digunakan saat mengobrol, sehingga menggunakan kosakata dan kalimat bahasa lain agar pesannya tersampaikan dengan mudah. Hal yang seperti ini biasanya bisa kita jumpai pada orang yang hanya bisa mengerti Bahasa Indonesia tetapi tidak bisa berbicara banyak dalam Bahasa Indonesia. Misalnya orang yang tinggal jauh di pedalaman daerah yang penggunaan bahasa daerahnya sangat kental bahkan sangat langka ditemukan penggunaan Bahasa Indonesia. Sehingga orang-orang tersebut menggunakan bahasa daerahnya sebagai matrix language dan hanya menggunakan beberapa kosakata Bahasa Indonesia sebagai pendukungnya.

Alasan selanjutnya adalah untuk mengulangi kata dalam dua bahasa yang berbeda dengan maksud sebagai penegasan. Contoh yang ini sering kita jumpai di kelas saat belajar Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Ketika ingin menginstruksikan siswanya untuk mengerjakan tugas latihan, guru kita biasanya menggunakan bahasa asing yang kita pelajari dahulu, kemudian beralih bahasa menjadi Bahasa Indonesia dengan makna kalimat yang sama. Ucapannya menegaskan agar semua siswa mengerjakan tugas yang diinstruksikan.

Lalu, alasan yang terakhir adalah hanya untuk sebuah candaan. Candaan yang berhubungan dengan penggunaan bahasa sering kita jumpai, misalnya sebuah kalimat dalam bahasa daerah yang maknanya lucu, sementara itu kita membicarakannya dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, apa alasanmu mengalihkan bahasamu saat sedang berbicara?Rahasia, ataukah hanya bercanda? Sedikit banyak kita makin tambah tahu tentang fenomena code-switching. Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat.

Apa Itu Code-Switching?

Orang Indonesia pada umumnya bilingual, yang artinya bisa berbicara dalam dua bahasa. Bisa jadi satu orang bisa berbicara Bahasa Indonesia dan Bahasa Aceh, satu orang lagi bisa bicara Bahasa Minang dan Bahasa Indonesia. Bahkan, di keluarga yang lebih moderen, satu orang bisa multilingual dengan kemampuan berbicaranya lebih dari dua bahasa; Bahasa Indonesia, Bahasa Minang, Bahasa Batak, dan Bahasa Inggris. Orang bilingual dan multilingual sering sekali berganti bahasa saat sedang berbicara, bahkan masih dalam satu topik obrolan. Fenomena berganti-gantinya bahasa yang digunakan oleh orang yang sedang berbicara ini dalam istilah ilmu linguistik disebut dengan code-switching.

Pengguna code-switching ini sudah jelas adalah orang yang bisa bicara dua bahasa atau lebih. Di Indonesia, kita sering menemukannya karena masing-masing daerah di Indonesia punya bahasa daerahnya masing-masing. Selain itu, code-switching bisa kita jumpai saat berbicara dengan teman kita yang blasteran atau pindahan dari negara lain. Misalnya, ada bule ganteng atau oppa imut kayak artis Korea yang tinggal di lingkungan rumah kita. Bisa jadi mereka bisa bicara bahasa ibu mereka (si bule berbahasa Inggris, si artis Korea gadungan pasti ngomong Korea) dan Bahasa Indonesia. Dan saat kita (yang mengerti atau sedang belajar bahasa Inggris dan Korea) ngobrol dengan mereka, bisa jadi secara nggak sengaja akan terjadi code-switching saat mengobrol.

credit photo: Google Sites

Mungkin kita pernah mendengar teman kita berbicara seperti ini. “Don’t forget bawa hijabnya besok, ya? Nanti aku ajarkan gimana cara pakainya.” Anggap saja teman kita bicara pada teman kita yang lainnya soal pakai hijab yang gaya, dan kita secara nggak sengaja mendengarnya. Saat kita mendengarnya, kita pasti akan memperhatikan frase Bahasa Inggris yang diucapkannya. Kalau bagi yang mengerti dan biasa menggunakan Bahasa Inggris, mungkin tidak akan terdengar masalah. Tapi, bagi orang yang tidak mengerti Bahasa Inggris atau mengerti tapi jarang menggunakannya, maka frase “don’t forget” itu akan menjadi perhatian utama. Mungkin malah ada yang bertanya “apa?” untuk meminta si teman untuk mengulangi kata-katanya dengan bahasa yang lebih dimengerti: jangan lupa.

Code-switching antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris seperti contoh diatas lebih sering dijumpai di kalangan mahasiswa bahasa atau kalangan orang-orang yang bekerja di perusahaan multinasional. Di luar Indonesia, fenomena ini juga sering sekali terjadi apalagi di negara-negara yang memang menggunakan dua bahasa sebagai bahasa nasionalnya seperti di Malaysia, Filipina dan India.

Menurut Paul dalam tayangan di Langfocus, fenomena code-switching ini biasanya tidak bisa diprediksi, seperti kita bertukar bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Orang-orang bisa berganti bahasa dalam suatu obrolan bahkan dalam satu kalimat. Misalnya, saat teman kita sedang kesulitan dengan sinyal hapenya, tanpa pikir panjang kita akan bilang, “coba dicek dulu setting-annya”. Kata setting sudah jelas adalah kata dari Bahasa Inggris yang kita gunakan dalam kalimat Bahasa Indonesia yang kita ucapkan. Bahkan kita tidak benar-benar memikirkan kata yang kita pilih sesaat sebelum mengucapkannya.

Dalam code-switching, biasanya kita memakai bahasa yang dominan kita pakai sebagai bahasa pengantar kita saat berkomunikasi dengan orang lain. Misalnya, Bahasa Indonesia adalah bahasa dominan kita. Dalam ilmu linguistik, bahasa yang dominan digunakan saat berbicara disebut dengan matrix language. Sementara itu, kita menggunakan kata, frase, bahkan menggunakan kalimat dalam bahasa lain saat berbicara dalam Bahasa Indonesia tersebut. Jika kosakata setting yang kita gunakan dalam obrolan tadi adalah Bahasa Inggris, maka Bahasa Inggris adalah bahasa tambahan kita. Dalam ilmu linguistik, istilahnya adalah embedded language. Jadi, kalau ucapan “coba dicek dulu setting-annya” dijabarkan, maka “coba dicek dulu” yang dalam Bahasa Indonesia ini disebut matrix language, sedangkan kosakata Bahasa Inggris “setting” adalah embedded language, dan terakhir, akhiran “-an” dan “-nya” yang berasal dalam Bahasa Indonesia jelas adalah matrix language.

Sedikit banyak, sekarang kita mengerti soal fenomena code-switching. Memang, jika kita membahas soal bahasa, tidak akan ada habisnya apalagi buat yang memang minat banget dengan ilmu bahasa dan ilmu linguistik. Di postingan selanjutnya akan dibahas tentang mengapa orang melakukan code-switching. Sekian dulu, semoga menambah pengetahuan kita, jangan lupa bagi-bagi ilmunya sama teman, dan terima kasih.

Gimana Kita Bisa Tahu Seseorang Berbohong?

Mungkin kita pernah menanyakan kabar seseorang kerabat, kemudian menerima jawaban baik-baik saja. Akan tetapi, sebenarnya bisa jadi dia sedang patah hati atau patah kaki dan sedang dirawat di rumah sakit. Mungkin juga kita pernah menelepon seseorang namun tidak diangkat-angkat. Dua jam kemudian kita mendapat respon darinya via pesan teks bahwa baterai ponselnya sedang mati.

Kebohongan adalah hal yang lazimnya kita hadapi sehari-hari. Bahkan dalam sehari, tanpa kita sadari kita menemukan kebohongan satu, dua, sepuluh, hingga 200 kali saat berinteraksi dengan orang lain. Banyak teknik yang dapat mendeteksi kebohongan, mulai dari alat torturing, monitor tekanan darah dan pernapasan, alat pendeteksi tekanan suara hingga scanner otak menggunakan infra merah. Akan tetapi, alat-alat canggih tersebut masih saja bisa dibohongi. Bahkan bisa membohongi badan hukum tertinggi sekalipun.

Lalu, bagaimana kita bisa tahu kalau seseorang sebenarnya sedang berbohong kepada kita? Mungkin saja, alat-alat diatas tidak dapat dijangkau oleh kebanyakan orang. Namun, sebenarnya ada cara yang lebih simpel namun harus sering dipelajari secara mendalam, yaitu dengan ilmu berkomunikasi.
Jika kita mau jujur dengan diri kita sendiri, kita pernah berbohong kepada orang lain tentang diri kita sendiri. Mengapa? Karena kita lebih menginginkan kalau orang lain tahu bahwa kita adalah orang yang sesuai dengan harapan kita sendiri daripada sifat nyatanya kita. Misalnya, kita mengharapkan orang lain tahu kalau kita adalah orang yang jujur dan telah berpengalaman dalam suatu urusan. Maka kita akan mengatakan kepada orang tersebut dengan bahasa kita berkomunikasi bahwa kita adalah orang yang demikian. Namun, nyatanya, pengalaman kita belumlah banyak yang kita harapkan. Otak kita sebenarnya lebih banyak berisi tentang impian kita sebagai siapakah kita daripada realita siapa kita sebenarnya.

credit photo: wikihow.com

Lalu, bagaimana kita bisa mendeteksi seseorang yang berbohong dengan berkomunikasi ini?
Berdasarkan pengamatan realita, ekspektasi kita terhadap diri kita sendiri berbeda dengan keadaan realitanya. Jadi, bisa disimpulkan, jika kita diajak berbicara tentang pribadi kita, kita akan menggunakan bahasa kita dengan menambahkan susunan gaya bahasa tertentu yang hanya diketahui maksud sebenarnya dengan memperhatikan caranya berbicara atau berkomunikasi dengan kita. Dan tentu saja, hal itu membutuhkan energi dan waktu ekstra untuk membicarakannya dihadapan orang lain. Ya, karena tentang pribadi kita sendiri. Pada dasarnya, kita mencemaskan opini orang lain terhadap kita.

Seperti yang dikatakan Noah Zandan pada tayangan TED-Ed, sebuah teknik yang dinamakan Lingustic Text Analysis, atau analisis teks linguistik dapat membantu kita mengidentifikasi beberapa pola gaya bahasa yang dapat menentukan apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.
Pertama, pembohong biasanya berusaha menyatakan bahwa dia tidak menipu dengan menceritakan sesuatu yang sebisa mungkin tidak dikait-kaitkan dengan dia. Dia akan membicarakan orang lain dan orang lain dan menggunakan tokoh orang ketiga untuk membuat orang lain percaya jika dia tidak termasuk dalam orang-orang yang diceritakannya. Akan tetapi, apa yang diceritakannya akan terdengar ganjil jika dia menceritakannya dengan terlalu detil. Padahal dia mengaku tidak ikut dalam cerita tersebut.

Kedua, pembohong akan berusaha mengatakan sesuatu yang terdengar negatif. Maksudnya, ketika seseorang tahu bahwa dia berbohong, maka ia akan merasa bersalah karena telah mengatakan kebohongan, tapi tetap menyembunyikannya, dan mengalihkan pembicaraannya dengan kita dengan kata maaf atau keluhan tertentu. Misalnya dengan berkata maaf lama membalas pesan karena baterai ponsel yang habis, padahal sebenarnya ia hanya malas menanggapi pesan yang diterimanya.

Lalu yang ketiga, pembohong lebih suka menceritakan suatu peristiwa dengan alur penjelasan yang sederhana. Karena, otak manusia lebih mudah mencerna cerita yang sederhana dibandingkan cerita asli yang selengkapnya. Akan tetapi, walaupun alur yang diceritakan sederhana, dia akan menceritakannya dengan bahasa yang panjang bahkan berbelit-belit kepada kita. Tak jarang para pembohong menggunakan penekanan kata-kata tertentu pada kalimat yang diucapkan yang mungkin bermakna sebaliknya.

Namun dari semuanya, kebanyakan kebohongan yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari bukanlah kebohongan yang serius sekali hingga bisa mengurangi kepercayaan kita kepada orang lain secara drastis. Tetapi, jika kita bisa mengidentifikasinya, maka kita tidak akan mudah dibohongi dengan cerita orang lain. Tidak perlu menuduh cerita seseorang hanyalah fiktif belaka, tetapi tetap rileks saja mendengarkan dan kita bisa menilai sendiri dengan sejumput ilmu berkomunikasi kita apakah yang dikatakannya fakta atau bukan. Silahkan dicoba dan mencoba mengidentifikasi cerita temanmu dan terima kasih telah membaca penjelasan ini.