Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Thursday, May 11, 2017

Negara-Negara Dengan Bahasa Tutur Paling Banyak

Beberapa dari kita mungkin mengira hanya kita yang berasal dari negara yang memiliki banyak bahasa. Sementara orang lain di luar Indonesia berasal dari negara yang hanya ada satu bahasa, misalnya hanya bahasa Inggris atau bahasa Perancis. Padahal, jika ditelusuri lebih teliti lagi, ada negara yang memiliki lebih banyak bahasa daripada Indonesia raya. Negara-negara apa sajakah yang memiliki keragaman bahasa?

ilustrasi: easylanguagecourse.com

Berdasarkan tayangan di LangFocus, inilah daftar 5 negara yang mempunyai bahasa tutur paling banyak.

1. Papua Nugini
Papua Nugini memiliki sedikitnya 820 bahasa. Sebabnya adalah penduduknya yang sangat terisolasi dari satu desa ke desa lainnya. Papua Nugini mempunyai geografis yang ekstrim, dengan pegunungan dan lembah yang curam yang membuat dari satu daerah ke daerah lainnya sulit dijangkau. Oleh karena itu, penduduk satu daerah dengan daerah lainnya memiliki bahasa yang berbeda. Bahkan sangat banyak bahasa yang tidak memiliki kesamaan antara bahasa satu kampung dengan bahasa kampung sebelahnya. Walaupun begitu, ada 3 kategori bahasa yang membuat bahasa di Papua Nugini begitu beragam.

Yang pertama adalah bahasa Austronesian yang sampai di Papua Nugini sekitar 3500 tahun yang lalu. Kemudian ada kategori bahasa Papua, bahasa asli yang muncul di Papua itu sendiri sebelum masuknya bahasa Austronesian. Kategori bahasa Papua sendiri terdiri dari banyak rumpun bahasa yang berbeda secara linguistik. Banyak bahasa dalam kategori bahasa Papua itu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan bahasa serumpunnya. Selain itu, ada juga bahasa yang memang tidak memiliki rumpun atau hubungan sama sekali dengan bahasa-bahasa lain yang ada di dunia. Yang terakhir adalah bahasa asing dan creole yang juga mempengaruhi beragamnya bahasa di Papua Nugini.

Papua Nugini memiliki 3 bahasa resmi. Yang pertama adalah Bahasa Inggris, tetapi bahasa Inggris hanya dipakai oleh 1 hingga 2 persen dari penduduk di Papua Nugini. Bahasa Inggris digunakan dalam bidang bisnis dan juga dalam beberapa keadaan digunakan dalam sektor pendidikan juga sebagai bahasa pengantar. Akan tetapi, kalau hanya 1 atau 2 persen yang menggunakan bahasa Inggris, maka pendidikan akan susah ditransfer ke siswa, deh.

Kemudian, bahasa resmi kedua di Papua Nugini adalah Tok Pisin. Tok Pisin adalah bahasa yang paling banyak digunakan dan berfungsi sebagai lingua franca yang perannya sangat penting dalam kehidupan sosial di negara yang mempunyai banyak bahasa. Bahasa ini sebenarnya adalah bahasa Inggris creole. Bagi yang bingung apa itu creole, akan kita bahas nanti saja, ya. Tok Pisin banyak digunakan di bagian selatan Papua Nugini.

Yang terakhir adalah bahasa Hiri Motu. Hiri Motu adalah bahasa Motu creole yang sudah disederhanakan. Bahasa Motu sendiri adalah salah satu bahasa dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini mulai jarang digunakan karena penggunaan bahasa Tok Pisin dan Bahasa Inggris yang lebih dikenal luas daripada bahasa Hiri Motu.

2. Indonesia
Ya, negara kita ada di urutan kedua sebagai negara yang memiliki bahasa paling banyak di dunia. Menurut LangFocus, jumlah bahasa yang ada di Indonesia ada sekitar 740 bahasa. Akan tetapi, syukurlah negara kita punya satu bahasa pemersatu bangsa (lingua franca) yang kita kenal bernama Bahasa Indonesia.

3. Nigeria
Nigeria memiliki 516 bahasa, namun Bahasa Inggris berperan sebagai lingua franca di negara tersebut.

4. India
India memiliki 427 bahasa dengan lingua franca bahasa Hindi dan bahasa Inggris.

5. Amerika Serikat
Amerika Serikat, negara dengan wilayah paling luas hanya memiliki 311 bahasa jika dibandingkan dengan negara kecil seperti Papua Nugini. Mengejutkan, bukan? Keragaman bahasa di Amerika Serikat berasal dari 100 lebih bahasa pribumi dan bahasa-bahasa yang digunakan oleh para imigran yang tinggal di Amerika Serikat.


Mind blowing nggak sih dengan juara satunya? Semoga ini jadi menambah pengetahuan kita. Terima kasih.

Tuesday, March 21, 2017

Kenapa Banjir Terus-Terusan Melanda Jakarta?

Siapa sih yang nggak stres gara-gara banjir? Belum lagi banjir yang memang hobinya datang setahun sekali seperti di Jakarta. Ditambah lagi dengan banjir yang membawa penyakit, sampah yang hanyut bahkan menyebabkan kerugian bagi orang-orang yang rumahnya selalu terendam banjir. Jadi kenapa banjir terus-terus kejadian di Jakarta?

Sumber foto: istock.com

Menurut tayangan Kokbisa, banjir di Jakarta adalah masalah yang multidimensional. Mulai dari daratan Jakarta yang memang tidak sanggup menampung volume air yang besar dari dataran tinggi yang mengelilinginya, pemerintah yang belum siap dan pusing menanganinya dan juga masyarakatnya sendiri yang susah diajak bekerja sama menjaga lingkungan.

Berdasarkan sejarah dan letak geografisnya, daratan Jakarta terbentuk dari aliran sungai-sungai besar yang mengalir dari daerah Bogor dan sekitarnya. Sungai-sungai besar yang mengaliri Jakarta ini membawa material dari gunung-gunung dan bukit yang ada di sekeliling daratan Jakarta, yang kemudian material tersebut mengendap menjadi lumpur, kemudian daratan rendah, yang kemudian menjadi Jakarta. Dan tentu saja, aliran sungai-sungai besar tersebut membentuk sungai-sungai kecil agar air bisa mengalir ke Laut Jawa, yang kemudian membuat Jakarta dialiri banyak sungai.

Pada saat musim kemarau, sungai-sungai di Jakarta ini bau dan kering. Akan tetapi, disaat musim penghujan tiba, sungai pun dialiri penuh air hingga air pun naik ke pinggir-pinggir sungainya. Ditambah lagi, ketika terjadi urbanisasi, perpindahan warga dari pelosok ke ibukota, membuat daerah tepian sungai pun dipenuhi dengan bangunan. Sehingga daerah pinggir sungai tidak lagi sanggup menyerap air, dan menyebabkan banjir yang menggenangi jalan-jalan di ibukota. Belum lagi, kebiasaan warga yang masih suka membuang sampah sembarangan ke sungai.

Urbanisasi membuat lahan resapan air lainnya berubah fungsi menjadi pemukiman. Banyak hutan yang ditebang sehingga semakin sedikitnya pohon yang seharusnya bisa membantu peserapan air. Tidak hanya di daerah Jakartanya, namun juga di daerah dataran tingginya seperti Puncak dan Bogor. Akibatnya, air hujan yang seharusnya diresap oleh hutan menjadi mengalir langsung ke Jakarta. Sayangnya, sungai-sungai di Jakarta tidak mampu menahan air yang mengalir dari Puncak dan Bogor, maka jadilah banjir Jakarta.

Lalu, bagaimana solusinya?

Solusinya mungkin adalah kerja sama pemerintah dengan masyarakatnya juga. Pemerintah mungkin sebaiknya bisa membuat peringatan dini bencana banjir atau membuat kerja sama dengan NGO dalam membangun Jakarta menjadi lebih baik. Selain itu, pemerintah juga bisa menerapkan peraturan yang tegas untuk drainase dan daerah aliran sungai. Tidak hanya pemerintah saja, masyarakat juga harus bekerja sama. Masyarakat bisa membantu dengan melaporkan pembangunan-pembangunan pemukiman liar tanpa izin pemerintah atau melaporkan orang yang suka membuang sampah sembarangan. Dan pastinya solusi seperti ini prosesnya tidak sebentar.

Sebagai warga yang baik, sebaiknya kita memang peka dan menjaga lingkungan kita agar lingkunganpun menjadi ramah dengan kita. Hal ini tidak hanya berlaku untuk Jakarta saja, akan tetapi bisa berlaku untuk daerah lainnya.


Friday, March 10, 2017

Bagaimana Sejarah Pemilu Di Indonesia?

Sebulan yang lalu, negeri kita heboh dengan Pilkada. Ya, Pilkada adalah pemilihan kepala daerah yang diadakan di beberapa provinsi secara serentak di seluruh Indonesia. Ngomongin soal pilkada, ujung-ujungnya pasti kita nyerempet ke soal kasus pejabat yang korupsi dan lain-lain karena topiknya ranah politik. Sehingga banyak dari kita yang lebih memilih cuek dengan dunia perpolitikan negara kita, Indonesia. Tapi, jika kita mengerti sedikit tentang sejarahnya, kita tidak bisa juga begitu cuek karena hasil dari pemilu dan pilkada sangat berpengaruh untuk masa depan negara atau daerah kita kedepannya. Lalu, bagaimana sih perjalanan sejarah pemilu di Indonesia?

Sumber foto: Boomee.co

Menurut tayangan Kokbisa, pemilihan umum itu dimulai pada tahun 1955 di Indonesia. Tepatnya, 10 tahun setelah Indonesia merdeka. Waktu itu, pemilu diikuti 30 partai politik untuk memilih Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Konstituante yang tugasnya membuat Undang-Undang Dasar Baru untuk Indonesia. Pemilu tersebut dimenangkan oleh 4 partai besar yaitu, PNI, Masyumi, NU dan PKI.

Setelah berjalan 4 tahun, Presiden Soekarno membubarkan Dewan Konstituante karena tidak bisa membuat Undang-Undang Dasar Baru bagi Indonesia. Masa ini disebut dengan Demokrasi Terpimpin karena pemerintahan berada dibawah pimpinan presiden, yang artinya presiden yang memegang kekuasaan paling tinggi di negara kita.

Berselang puluhan tahun kemudian, Presiden Soeharto naik dan pemilu diadakan kembali pada tahun 1971. Pemilihan pun diadakan selama lima tahun sekali, dan partai yang menang itu-itu saja. Setelah Presiden Soeharto jatuh, Presiden Habibie naik dan mengeluarkan undang-undang yang menjadi cikal bakal pilkada dan undang-undang yang menjadi cikal bakal pemilihan umum yang adil dan demokratis pada tahun 2004.


Semakin berkembangnya dan bertambahnya populasi penduduk Indonesia, semakin banyak pula pemilih pemula yang ada setiap masanya. Pada pilkada kemarin, pemilih pemula mencapai 53 juta orang. Dan tentu saja dengan suara segitu banyak akan bisa mempengaruhi hasil dan masa depan daerah kita kedepannya.

Kenapa Jakarta Macet Banget?

Mungkin saat kita berada dalam kemacetan di kota kita sendiri yang diluar Jakarta, kita merasa, uh, macet banget. Tapi ternyata kemacetan di kota kita nggak lah seberapa dibandingkan kota termacet di dunia, Jakarta, seperti yang ditanyangkan Kokbisa. Bahkan menurut beberapa survei, jarak yang ditempuh oleh orang kantoran dari rumahnya bisa memakan waktu sampai berjam-jam padahal jaraknya tidak sampai 20 kilometer. Lalu, kenapa Jakarta bisa macet pake banget?

Sumber foto: freedesignfile.com

Faktor pertamanya adalah transportasi umum yang belum memadai untuk menutupi semua penduduk yang ada di Jakarta. Tak jarang kita lihat angkot yang suka mogok masih digunakan untuk mengantar penumpang. Selain itu, faktor keamanan dalam transportasi umum juga masih belum terjamin. Kita harus ekstra hati-hati dan menjaga diri dan tas kita. Kalau nggak kecopetan bisa jadi kena hipnotis.

Sementara itu, di kota-kota di luar negeri sana, kebanyakan orang menggunakan transportasi umum. Di tempat mereka, transportasi umumnya memiliki fasilitas yang memadai dan aman. Sehingga ada kota-kota di luar negeri sana yang 60% penduduknya menggunakan transportasi umum. Di Indonesia sendiri, khususnya Jakarta hanya 20% saja. Karena fasilitas dan keamanan tadi penduduk kita lebih senang membeli kendaraan pribadi yang nyaman, aman dan memadai.

Karena semakin banyak orang yang memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi kemana-mana, akibatnya jalanan makin penuh dengan kendaraan dan tentu saja mengakibatkan kemacetan yang panjang. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan pemakaian kendaraan pribadi di Jakarta yang mencapai 12-13% per tahun. Sementara itu, pertumbuhan jalan tidak sampai satu persen. Inilah yang membuat Jakarta menjadi macet. Kendaraannya tambah banyak, jalannya ya segitu saja
.
Tidak hanya itu, ketertiban lalu lintas pun belum berjalan sepenuhnya. Di jalanan yang sempit ada saja orang yang parkir kendaraan sembarangan, buka lapak dagangan kaki lima, bahkan angkot yang ngetem berlama-lama di pinggir jalan yang membuat semakin sesaknya jalanan ibukota. Belum lagi, banyak orang-orang dari daerah di sekeliling Jakarta yang mencari makannya di Jakarta.

Mereka yang hilir mudik setiap haripun secara langsung menyumbang kemacetan yang terjadi di ibukota. Tapi kita nggak bisa juga menyalahkan mereka, ya namanya juga manusia butuh makan. Akan tetapi, jika pembangunan di Indonesia ini merata di segala daerah ada banyak lapangan kerja, pasti kemacetan akan berkurang. Sayangnya kita terlalu fokus di ibukota.


Jadi, setidaknya kita mengetahui kenapa Jakarta itu macetnya minta ampun. Warga Jakartanya sendiri pun pusing karena macet setiap hari. Oleh karena itu, ada baiknya nggak cuma pemerintahnya saja yang beraksi melakukan perubahan tapi juga warganya yang ikut turun tangan. Dan ini nggak cuma berlaku di Jakarta saja, tetapi juga di kota-kota kita sendiri.

Wednesday, March 08, 2017

Apa Saja Sih Jenis-Jenis Musik Dangdut?

Yang generasi 90-an pasti pernah mendengar lagu Dangdut Is The Music of My Country yang dipopulerkan oleh Project Pop. Kita pun juga sering mendengar lagu dangdut dimana-mana; di televisi, di acara pertunjukan, kondangan, konser dan lain-lain. Musik dangdut juga sangat populer dalam masyarakat kita, walaupun lumayan banyak juga orang Indonesia yang tidak suka. Padahal aliran musik dangdut ini adalah aliran asli dari negeri kita, sama dengan aliran musik keroncong dan campur sari.

Walaupun tidak suka, tetapi kita sebaiknya tahu juga sedikit banyak hal tentang dangdut. Setidaknya, jika ditanyain sama bule, kita bisa menjelaskannya. So, musik yang bagaimana kah dangdut itu?
Menurut yang tercantum di laman Wikipedia, musik dangdut berciri-ciri dentuman tabla atau alat perkusi India dan gendang. Dangdut juga mengadopsi unsur-unsur Hindustani, Melayu dan Arab yang dibawa oleh orang-orang zaman dahulu yang datang dan berbudaya di nusantara. Dalam artikel lain juga dijelaskan kalau dangdut mudah dicerna sehingga mudah diterima masyarakat dan menjadi populer.

Awalnya, musik dangdut ini tidak banyak perkembangan. Musik ini dikenal kurang mempunyai improvisasi baik dari melodi maupun harmoninya. Kita pun lebih mengenal suara ketukan yang sama, tak dung dung tak dung, dalam berbagai lagu dangdut yang dibuat. Namun seiring perkembangan zaman, musik dangdut pun mulai berimprovisasi dan mulai banyak jenis-jenisnya. Jenis atau genre musik dangdut yang sudah berkembang sekarang adalah sebagai berikut.

Sumber foto: Flickr.com

1. Dangdut Melayu
Dangdut melayu ini sering kita dengar di tahun 80-an hingga 90-an. Iramanya masih kental agak keindia-indiaan dengan tempo sedang. Dangdut melayu biasanya mempunyai lirik dengan makna tertentu yang dalam. Kita bisa mendengar contoh musik dangdut melayu dengan mendengar lagu-lagunya raja dangdut, Rhoma Irama.

2. Dangdut Koplo
Inilah genre musik dangdut yang paling populer sejagad Indonesia. Dangdut koplo biasanya mudah ditemukan dimana-mana, seperti di acara kondangan, pentas dangdut di alun-alun kota, dan lain-lain. Dangdut koplo biasanya memiliki tempo yang lebih cepat daripada dangdut melayu. Dan biasanya, lirik lagunya agak nyeleneh. Yang penting goyang asyik.

3. Dangdut Rock
Pernah mendengar lagu “Mbah Dukun” yang dipopulerkan Alam? Nah, inilah contoh lagu dangdut yang agak berkolaborasi dengan aliran musik rock. Biasanya kita sering mendengar suara gitar elektrik yang mendominasi dalam genre musik ini. Selain itu, tempo dangdut ini juga cepat.

4. Dangdut Pop
Mulai tahun 2010-an, musik dangdut juga mulai berkolaborasi dengan aliran musik pop, yang kemudian terciptalah musik dangdut pop yang asyik didengar. Contoh lagu dangdut pop adalah lagu Sambalado yang dipopulerkan oleh Ayu Ting Ting.

5. Dangdut Remix
Selain dengan aliran pop, musik dangdut sekarang ini juga berkolaborasi dengan aliran musik remix atau disco yang identik dengan beat dan tempo yang cepat. Ciri khasnya bisa didengar dengan tambahan electronic music. Salah satu penyanyi yang sukses mempopulerkan musik dangdut remix adalah Cita Citata.

Bagaimana sudah pernah mendengar semua jenis lagu dangdut? Ada yang kamu suka nggak?


Monday, March 06, 2017

Apa Itu Komodo?

Banyak dari kita yang masih belum mengetahui apa itu komodo. Ya, komodo atau Varanus komodoensis adalah hewan purba, spesies kadal terbesar di dunia. Uniknya, komodo ini berasal dari negara kita, Indonesia. Komodo merupakan satwa langka yang statusnya terancam punah dan saat ini dilindungi di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo, Kecamatan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Sumber foto: clipartion.com

Menurut laman Wikipedia, komodo dewasa biasanya memiliki berat 70 kilogram atau lebih. Spesies terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3 meter lebih dan bobot 166 kilogram. Secara fisiologis, komodo tidak memiliki indera pendengaran walaupun memiliki lubang telinga. Mereka mengandalkan indera penglihatannya yang mencapai 300 meter dan indera penciuman venomeronasal yang mencapai radius 10 kilometer untuk mendeteksi bangkai mangsa. Komodo merupakan hewan karnivora pemakan bangkai. Walaupun demikian, beberapa komodo juga ada yang berburu mangsa dengan cara mengendap-endap incarannya.

Komodo pertama kali ditemukan oleh orang Eropa pada tahun 1910 dan semakin meluas setelah seorang peneliti menerbitkan paper tentang komodo. Sebagai objek penelitian, komodo pun diburu dan jumlahnya terus berkurang dari waktu ke waktu. Menyadari keberadaan komodo semakin terancam, pemerintahan Belanda di Indonesia waktu itu melarang dan membatasi jumlah pemburuan komodo yang diambil untuk kepentingan penelitian ilmiah. Populasi komodo saat ini diperkirakan sekitar 4.000 – 5.000 ekor yang hidup di habitat liar. Hal ini tidak diakibatkan oleh pemburuan ilegal saja, tetapi juga karena meningkatnya bidang pariwisata, kebakaran, gempa bumi, kerusakan habitat yang berdampak pada berkurangnya mangsa dan lain-lain.


Jika kita ingin melihat komodo secara langsung, kita bisa berjalan-jalan ke Taman Nasional Komodo yang ada di Nusa Tenggara Timur. Tetapi, hati-hati ya, jangan pergi tanpa pemandu. Karena komodo bukanlah hewan yang ramah kepada manusia, walaupun komodo yang dikurung di penangkaran sekalipun. Bahkan komodo pernah dikabarkan menyerang seorang anak. Luka akibat gigitannya yang berbisa dan cakarnya yang tajam dapat berakibat fatal dan mengancam nyawa manusia.

Friday, March 03, 2017

Suku dan Ras, Samakah Maknanya?

Ketika kita mendengar kata suku dan ras, mungkin yang langsung terlintas di kepala kita adalah SARA. Dan ketika kita mendengar kata SARA kita langsung terpikir tentang sesuatu yang sensitif yang berkaitan dengan suatu golongan, apakah itu suku tertentu, ras tertentu agama tertentu atau golongan-golongan lain tertentu. Kita juga sering melihat peringatan semacam “Jangan berkomentar hal yang mengandung SARA” dalam suatu diskusi atau forum di internet. SARA itu apa sih?

Dari sebuah artikel, SARA diartikan sebagai bermacam-macam pandangan atau tidakan yang didasarkan pada sentimen suatu identitas, yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan, suku, maupun golongan tertentu. Jadi, jika ada tindakan, baik fisik maupun verbal, dalam bentuk kekerasan, diskriminasi maupun pelecehan yang didasarkan atau ditujukan pada identitas golongan tertentu, maka tindakan tersebut dikategotikan sebagai SARA. Intinya, saat membicarakan tentang hal yang berkaitan dengan golongan tertentu, kita harus hati-hati, karena akan menimbulkan sentimen terhadap golongan tertentu yang dibicarakan. Misalnya, mencandai budaya suku tertentu, tentu saja masyarakat pemilik suku dan budaya tersebut akan tersinggung, apalagi jika budaya itu sudah dijunjung tinggi oleh turun temurunnya. Sementara, kita hanya tahu kulit luarnya saja.

Seperti yang kita tahu, SARA merupakan sebuah akronim atau singkatan dari suku, agama, ras dan antargolongan. Jika kita lihat, banyak dari kita yang sudah mengerti makna semua kata yang ada dalam singkatannya. Akan tetapi, nggak sedikit pula yang masih bingung mengapa suku dan ras ada di dalam akronim tersebut. Suku dan ras, bukankah keduanya memiliki arti yang sama?

Menurut sebuah artikel, suku dan ras memiliki arti yang berbeda. Kata suku memiliki makna yang berkaitan dengan faktor sosiologis sekelompok orang, seperti budaya, kebangsaan, bahasa dan tradisi yang sama. Sedangkan kata ras sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan faktor biologis seseorang seperti warna kulit, rambut, mata yang diturunkan secara genetika. Jadi, bisa dikatakan kalau perbedaan suku dan ras adalah yang satu, suku, ditandai dengan karakteristik sosial budaya, dan yang satu lagi, ras, dengan karakteristik fisik.

Perbedaan suku dan ras mungkin bisa diperjelas dengan contoh berikut. Ada seseorang yang memiliki ciri-ciri fisik berkulit putih dan bermata sipit, akan tetapi sejak lahir hingga dewasa, ia tinggal di Indonesia. Secara ras, dengan ciri-ciri fisik yang dimilikinya, ia memiliki ras Asia. Akan tetapi, karena ia lahir dan hidup dalam lingkup sosial dan budaya di Indonesia, maka ia termasuk suku bangsa atau orang Indonesia.

Sumber foto: shutterstock.com

Akan tetapi, perbedaan antara suku dan ras tidak terlalu mencolok. Lain halnya dengan di negara lain. Ketika kita berjalan-jalan ke Australia, kita akan berjumpa dengan berbagai macam orang dari suku dan ras yang berbeda-beda. Ketika kita berjumpa dengan orang yang berfitur wajah Asia, kita akan langsung mengira jika dia bisa diajak ngobrol dengan bahasa Mandarin atau Jepang. Namun nyatanya, bisa jadi dia sama sekali tidak mengerti bahasa Mandarin, dan hanya berbicara bahasa Inggris. Begitu juga kalau kita bertemu orang yang berfitur wajah seperti orang Arab, namun ia diadopsi keluarga Amerika. Orang itu memiliki ras Arab, akan tetapi ia adalah orang (atau suku bangsanya) Amerika.


Bagaimana, sudah dapat pencerahan mengenai perbedaan suku dan ras? Ada yang ingin menambahkan? Terima kasih.

Mendirikan Negara Sendiri, Mungkinkah?

Pasti banyak dari kita yang sudah bosan dengan segala kejadian yang ada di negara kita. Mulai dari kemiskinan yang belum tuntas sampai sekarang, korupsi pejabat negara, sampai isu-isu lain yang berpotensi memecahbelah Bhinneka Tunggal Ika. Semuanya sungguh membuat kita sakit kepala. Mungkin diantara kita malah ada yang kepikiran untuk mendirikan negara sendiri saja yang tentram dan damai daripada dipusingkan dengan masalah dalam negeri kita. Tapi, mungkinkah kita bisa melakukannya?

Sumber foto: freepik.com

Menurut tayangan Kokbisa, mendirikan negara sendiri sebenarnya ya bisa-bisa saja asal kita bisa memenuhi syarat-syarat sebuah negara. Aristoteles, Plato, dan filusuf lain mengatakan bahwa sebuah negara adalah suatu organisasi yang memiliki pemerintahan, wilayah dan rakyat. Jadi bisa kita tarik kesimpulan kalau untuk mendirikan sebuah negara syaratnya harus ada wilayah, rakyat atau warga negara dan pemerintahan yang mengatur negara tersebut. Syarat-syarat tersebut disebut syarat konstitutif.

Wilayah, rakyat, pemerintahan? Mudah sekali, bukan? Bahkan dengan mengumpulkan teman-teman satu geng, kita bisa mendirikan sebuah negara. Jika saja anggota geng kita sampai 50 orang, itu sudah cukup untuk memenuhi persyaratan rakyat dan pemerintahan. Bagi kita yang punya pengalaman berorganisasi, bisa saja kita memilih siapa yang bisa dijadikan pemimpin di negara kita sendiri dari anggota geng kita. Namun, bagaimana dengan masalah wilayahnya? Dimana negara baru kita akan berdiri?

Sebenarnya, ada dua cara untuk mendapatkan wilayah agar sebuah negara baru bisa berdiri. Cara yang pertama adalah cara primer, yaitu dengan mengklaim wilayah kosong yang belum dijamah atau diklaim negara manapun di dunia ini. Wilayah yang tidak bertuan itu bisa kita jadikan sebagai wilayah negara baru kita. Dan tentu saja, wilayah yang kita pilih agar bisa hidup nyaman dan tentram di negara baru kita adalah daratan. Akan tetapi, semua daratan di muka bumi ini sudah diklaim 193 negara yang terdaftar sebagai anggota PBB. Bahkan daratan muka bumi ini juga sudah diklaim negara yang statusnya masih diperdebatkan. Tidak hanya itu, wilayah benua Antartika yang tidak benar-benar daratan saja sudah diklaim beberapa negara sebagai bagian dari negaranya. Rakyatnya? Entahlah, mungkin saja penguin. Tetapi ada juga beberapa manusia yang tinggal disana. Negara yang mengklaim daratan kutub selatan biasanya menggunakan wilayah es tersebut sebagai tempat penelitian.


Sumber foto: muslimminang.wordpress.com

Kalau daratan sudah diklaim oleh negara-negara di dunia, lalu bagaimana caranya agar bisa mendapatkan wilayah untuk sebuah negara baru? Ya, masih ada dengan cara sekunder yaitu dengan menaklukkan wilayah negara lain seperti yang dilakukan Hitler pada zaman perang dunia kedua atau dengan cara memproklamasikan kemerdekaan seperti Indonesia. Akan tetapi, cara ini melibatkan pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Selain itu, kalau tidak berhasil menaklukkan wilayah yang diincar, bisa-bisa kita ditahan atau malah dieksekusi karena memberontak pada pemerintahan negara yang sudah ada.

Ternyata, untuk mendirikan sebuah negara tidak cukup hanya dengan memenuhi syarat konstitutif. Ada syarat deklaratif yang harus dipenuhi, yaitu pengakuan kedaulatan dari negara lain yang sudah berdaulat baik secara de facto maupun de jure. De facto merupakan pengakuan sesuai dengan fakta di lapangan, sedangkan de jure adalah pengakuan resmi secara hukum. Misalnya, Indonesia yang sudah diakui sebagai sebuah negara secara de facto maupun de jure. Saat ini masih ada negara yang belum diakui secara penuh, yaitu Palestina. Negara ini sudah diakui secara de facto, namun belum secara de jure. Kalau kita melihat perjuangannya, sepertinya mendirikan negara sendiri itu ternyata nggak bisa dikatakan mudah. Selain itu, ada juga yang lebih susah lagi selain mendirikan negara sendiri, yaitu mensejahterakannya. Makanya itu walaupun negara di dunia ada banyak, tetapi tidak semuanya maju dan sejahtera. Contohnya saja, negara kita sendiri.

Namun, fakta uniknya ada juga pihak yang mendirikan negara berdaulat walaupun belum ada pengakuan secara internasional. Contohnya adalah sebuah negara kecil yang ada di Nevada, Amerika Serikat. Micronation, atau negara kecil bernama Republik Molossia ini berdiri pada tahun 1999 dan hanya berpenduduk 22 orang yang juga memegang kewarganegaraan Amerika Serikat. Tak hanya itu, Republik Molossia punya bendera, lambang kebangsaan dan mata uang sendiri. Berapa biaya yang dihabiskan untuk membangun republik itu? Mungkin saja US$10000 atau lebih.


Jadi intinya, mendirikan negara sendiri itu lumayan susah dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi tanggung jawabnya yang sangat besar setelah negara itu berdiri. Menyejahterakan rakyat negara tidak akan tuntas hanya dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun, bahkan kita bisa lihat sendiri, masih banyak negara-negara yang belum sejahtera bahkan umurnya sudah setengah abad lebih setelah merdeka. Oleh karena itu, coba dipikir-pikir lagi kalau memang ingin mendirikan negara sendiri, sanggup atau tidakkah kita memenuhi persyaratan dan bertanggungjawab setelah mendirikannya. Kalau memang mendirikan negara itu mudah, pasti sudah ada sejak dulu negara bernama Republik Galau dan United Jomblo. Sekian dan terima kasih.

Wednesday, February 22, 2017

Apa Penyebab Terjadinya Kabut Asap?

Hampir setiap tahun kita mendengar kabar tentang kabut asap. Apalagi di tahun 2015 kemarin, kabut asap terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Nggak hanya itu, negara tetangga kita pun seperti Singapura dan Malaysia kena dampaknya juga. Sebenarnya apa sih yang jadi penyebab terjadinya kabut asap itu?

Sejatinya, kabut asap terjadi karena kebakaran hutan. Seperti yang ditayangkan Kokbisa, di Sumatera, Kalimantan dan Papua banyak terdapat lahan gambut. Lahan gambut merupakan lahan basah yang mengandung zat karbon yang bersifat gampang terbakar. Kenapa lahan gambut mengandung zat karbon? Hal ini disebabkan karena lahan tersebut sudah berkali-kali ditanami tumbuhan, dan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk di lahan tersebut menambah kandungan karbon dalam tanahnya.

Sumber gambar: all-free-download.com

Namanya juga lahan gambut, pasti basah. Tempat yang basah pasti susah terbakar. Tapi, kalau lahan gambut ini dikeringkan, sudah pasti gampang sekali terbakar karena sudah ada zat karbon di dalam tanahnya. Ya, tanah lain juga memiliki zat karbon. Hanya saja, zat karbon di dalam lahan gambut itu kadarnya sangat tinggi sehingga jika ada pohon kering yang dibakar sedikit saja, apinya akan merambat dengan luar biasa. Akhirnya lahan gambut bisa menjadi tungku api raksasa yang bisa menghasilkan kabut asap yang luar biasa.

Disamping itu, ada perusahaan-perusahaan nakal yang memanfaatkan lahan gambut untuk industrinya lebih suka membakar lahan mereka untuk menanami kembali lahan pertaniannya. Namanya juga perusahaan dan orang berbisnis, tentu saja mereka mencari cara yang lebih mudah dan murah dalam proses industrinya. Kalau mereka menebang lahan pertanian, mereka harus mengeluarkan biaya 5 hingga 7 juta per hektarnya. Tapi, kalau hanya dengan membayar orang untuk membakar lahannya, mereka paling hanya perlu mengeluarkan modal 500 ribu hingga satu juta saja. Dengan didukung oleh iklim ekuator yang musim kemaraunya lebih panjang, maka membakar hutan adalah hal yang sangat hemat, baik tenaga maupun finansial.

Sayangnya, mereka tidak memperhatikan akibat apa yang ditimbulkan karena membakar hutan. Tak hanya soal kabut asap yang membatasi jarak pandang saja, tapi juga mengganggu sistem pernapasan kita apalagi buat anak-anak. Tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat bencana kabut asap di negara kita setiap tahunnya.

Masalah kabut asap sebenarnya sudah tidak tertangani sejak tahun 90-an. Pada tahun 1997 kabut asap Indonesia menyelimuti beberapa negara tetangga kita, Samudera Hindia dan juga beberapa bagian di negara Asia Timur walaupun tipis. Kabarnya saat itu adalah kabut asap paling parah yang pernah terjadi di Indonesia. Dan kabarnya juga, indeks pencemaran udara di beberapa daerah di Pulau Sumatera sudah mencapai angka yang berbahaya, yang artinya udara di daerah tersebut sudah sangat beracun untuk kita bernapas.


Lalu, apa yang bisa kita lakukan agar hal seperti ini tidak terjadi? Hal seperti ini memang sulit untuk dielakkan dan ditanggulangi, tapi kita bisa berusaha dengan memberikan pengetahuan kepada orang lain tentang bahaya kabut asap ini. Bagi orang yang tinggalnya jauh dari lokasi kebakaran hutan, mungkin mereka tidak tahu dan menganggap hal ini sepele. Ada baiknya kita menyuarakannya agar sampai ke masyarakat juga pemerintah. Jika sampai ke telinga pemerintah, mungkin saja akan ada tindakan tegas untuk pihak yang membakar hutan itu. Walaupun hanya lahannya sendiri, tapi kita nggak mau juga kan kebagian asapnya? Sekian dan terima kasih.

Benarkah Orang Tertentu Punya Sifat Seperti Itu? (Stereotipe)

Orang Batak itu keras, orang Padang itu pelit, orang Jawa itu lamban. Penilaian seperti ini sepertinya sangat lumrah di dalam masyarakat kita. Ya, penilaian seperti ini disebut dengan stereotipe. Seperti yang dikutip dari Wikipedia, stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang yang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok mana orang tersebut dapat dikategorikan. Ya, seperti tadi. Bisa jadi diantara kita punya teman atau tetangga orang Padang atau sukunya Minang, kita langsung menilainya pelit karena yang kita dengar orang Padang itu suka irit.

Suku yang lain, misalnya orang Batak yang terkenal ngomongnya keras. Bukan suaranya yang keras, tapi nada bicaranya yang begitu tegas, apa adanya dan nggak banyak basa-basi kalau ngomong alias to the point. Kalaupun omongannya bikin kita nangis dan hati teriris, tapi itulah omongan jujur mereka. Oleh karena itu mereka dianggap sebagai orang yang keras, apalagi rata-rata suksesnya mereka pada jadi pengacara. Oh ya, memang kebanyakan orang Batak sanggup teriak-teriak kencang dengan suara keras. Makanya suara mereka laku banget di paduan suara gereja maupun di panggung hiburan.

Sumber gambar: pinterest.com

Menurut tayangan di Kokbisa, orang Jawa terkenal bicaranya lemah lembut dan muter-muter. Hal ini karena kebanyakan orang Jawa dulunya adalah kaum penguasa dan kerajaan, jadinya mereka tahu mengambil hati rakyat dengan ucapan yang lemah lembut. Tapi bukan berarti kita bisa macem-macem sama orang Jawa, walaupun lembut mereka nggak bisa ditindas, ya.

Suku lain yang asalnya dari negeri Tionghoa, yang sekarang sudah ada dimana-mana, di negara manapun hingga adanya kota pecinaan di setiap negara pun mempunyai stereotipe sendiri di negeri kita Indonesia. Kalau kita ketemu dengan orang Tionghoa, yang terlintas dalam pikiran kita pasti ini orang pedagang, kalau enggak ya pengusaha. Kalau dibilang tetangga kita yang Tionghoa kalau dia kerjanya di kantor pemerintahan atau di tempat lain, pasti nggak percaya. Padahal si tetangga kerjanya beneran jadi dosen di universitas.

Diantara 1370 suku bangsa di Indonesia, pasti ada saja stereotipe yang melekat di masing-masing suku bangsa terhadap suku bangsa lainnya. Tapi beneran, ya. Nggak adil rasanya cuma menilai seseorang hanya berdasarkan suku bangsanya. Seperti tadi, misalnya kita punya tetangga orang Padang, tapi nggak berarti juga dia pelit. Mungkin kita nggak tau ternyata dia itu manusia paling dermawan yang ada di lingkungan kita.


Intinya, belum tentu teman atau tetangga yang kita kenal dengan latar belakang suku tertentu itu mempunyai sifat sesuai dengan stereotipenya. Bisa jadi, malah sebaliknya. Atau bisa jadi kita menemukan orang pelit di suku-suku lainnya. Artinya, stereotipe itu nggak 100% benar seperti yang dikabarkan. Kalau kita selalu menganggap suku ini begini orangnya atau suku itu begitu orangnya, yang ada bikin tersinggung orang lain saja dan memecah persahabatan. Lebih baik kita bersahabat dan saling mengerti satu sama lain karena Indonesia ini raya. Sekian dan terima kasih.

Saturday, February 11, 2017

Kenapa Kuliner Indonesia Enak?

Mungkin bagi kita, masakan yang biasa dibuat di rumah maupun di rumah makan itu biasa saja. Hal ini mungkin karena lidah kita sudah terbiasa mencicipi makanan Indonesia. Tapi tahukah kamu kalau kuliner Indonesia itu bukannya enak, melainkan enak banget. Bahkan rendang dan nasi goreng Indonesia tercatat sebagai kuliner terenak di dunia nomor satu dan dua versi CNN Travel. Tahukah kamu kenapa kuliner Indonesia enak banget?

Gambar: behance.net

Kalau kita memperhatikan saat nenek kita masak rendang, kita akan melihat betapa banyak bahan yang dijadikan bumbu begitu juga rempahnya. Mulai dari bawang, cabai, santan, buah pala, dan lain-lain dimasukkan ke dalam wajan sama nenek kita. Lalu, setelah selesai dimasak, kita mencicipinya dan rasanya enak sekali sampai ingin tambah dua kali. Inilah sebab pertama masakan Indonesia enak banget, yaitu banyak menggunakan bumbu atau istilahnya berani bumbu, dan banyak mengandung rempah-rempah.

Sejak dulu saat nenek moyang kita masih hidup, negeri kita terkenal sebagai Spices Island atau Kepulauan Rempah-rempah. Rempah-rempah yang lezat  menggoyang lidah ini terkenal ke seluruh dunia hingga membuat pedagang dari Tiongkok, sampai bule-bule Belanda berebut mencari rempah-rempah ke negeri kita.

Sebab kedua yang membuat masakan Indonesia enak banget ini adalah tata cara memasaknya yang unik untuk setiap masakan. Bahkan sebelum jurusan tataboga terdaftar di kampus kita, nenek kita sudah tahu bagaimana cara memasak rendang yang lezat, yang ternyata memakan waktu paling cepat 4 jam.

Selain itu, Indonesia juga secara geografis terletak sangat strategis. Hal ini menyebabkan banyak pedagang asing yang datang ke negeri kita, bahkan beranak pinak disini. Akibatnya, budaya lokal kita sengaja tak disengaja membaur dengan budaya orang pendatang, mulai dari pakaian sampai masakan. Oleh karena itu, kita bisa mencicipi berbagai macam masakan yang tidak hanya asli Indonesia, juga masakan yang aslinya berasal dari negeri orang seperti martabak, mie dan kue bolu.


Memang sudah seharusnya kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Selain kuliner yang juara, budaya lokal kita pun sebenarnya sangat dikagumi bangsa lain. Sebagai generasi penerus bangsa, ada baiknya kita mengenal lagi budaya kita, jangan terus-terusan mengagumi budaya bangsa lain tapi nggak tahu dengan budaya sendiri. Bahasan ini mungkin membuat kita menjadi lapar, jadi selamat makan bagi yang sedang makan, dan terima kasih.

Kenapa Posisi Setir Mobil Kita Sebelah Kanan?

Pada saat kita naik bus telolet, kita akan memperhatikan kalau supir duduknya di sebelah kanan. Ya, begitu juga pada mobil kita dan tetangga kita. Setir kemudinya ada di sebelah kanan. Kenapa demikian dan di negara lain sebaliknya?

Gambar: googleimages.com

Sebenarnya, tidak terlalu banyak negara yang menggunakan kemudi kanan. Justru 65% negara di dunia menggunakan kemudi di sebelah kiri. Sebab perbedaan posisi kemudi mobil ini adalah perbedaan posisi jalur di tiap-tiap negara. Jika suatu negara menggunakan jalur jalannya di sebelah kiri, maka posisi kemudi mobilnya tentu di sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya. Jika suatu negara menggunakan jalur kanan sebagai tempat jalannya mobil, maka posisi kemudi mobilnya harus di sebelah kiri. Hal ini terjadi karena untuk mempermudah pengemudi mobil melihat ke depan. Jika jalur yang digunakan adalah jalur kiri dan posisi kemudinya juga di sebelah kiri, otomatis pengemudi akan kesulitan melihat ke depan karena ada bagian yang terhalang penglihatan sang pengemudi.

Pada zaman manusia masih menggunakan kereta kuda dulu, pengemudi kereta kuda di Perancis berada di posisi sebelah kiri, ya karena jalur yang mereka pakai untuk berjalan adalah jalur kanan. Hal ini memudahkan sang pengemudi kereta kuda untuk melihat ke depan dan menghindari kereta kuda lain yang sedang lewat dari arah berlawanan.

Setelah zaman revolusi, Perancis dan beberapa negara lainnya seperti Belanda dan Inggris mengadopsi jalur kereta kuda sebelah kiri. Tentu saja, kemudi kereta kuda hingga mobil pada zaman itupun berubah posisi menjadi di sebelah kanan. Di Indonesia sendiri, posisi kemudi ada di sebelah kanan karena budaya yang dibawa oleh penjajah, Belanda. Selain itu, mobil-mobil buatan Jepang yang laku di Indonesia pun menjadikan negara kita menggunakan setir sebelah kanan hingga sekarang.


Mungkin kita pernah melihat mobil berat yang mencantumkan tulisan “awas setir kiri” di bagian pintu. Itu dibuat untuk memberitahukan siapa saja yang sedang lewat atau berpapasan agar sedikit menjaga jarak dan berhati-hati jika sedang berada di dekatnya. Tidak hanya kepada mobil setir kiri, kitapun harus tetap berhati-hati dengan mobil biasa yang setir kanan apakah yang menyetir ugal-ugalan atau tidak. Tetap jaga keselamatan kita dalam berkendara dan terima kasih.

Thursday, February 09, 2017

Kenapa Bendera Indonesia Merah Putih?

Waktu kita di sekolah, jam pertama di hari Senin biasanya dipakai untuk upacara bendera. Otomatis kitapun menggunakan atribut paling lengkap dibanding hari-hari lainnya. Nggak jarangpun diantara kita yang kepanasan, kepala gatal, mengantuk bahkan pura-pura pingsan saat upacara bendera. Tapi pernahkah kita menatap bendera kita yang sedang naik ke puncak paling tinggi tiang bendera sambil bertanya kenapa warnanya merah putih?
Gambar: share-ajah.com

Berdasarkan tayangan di channel Kokbisa, asal mulanya bisa dikatakan berasal dari zaman kerajaan-kerajaan dulu. Pada abad ke-13, kerajaan besar seperti Kerajaan Majapahit menggunakan bendera yang berwarna merah dan putih sebagai panji yang dibawa-bawa untuk acara kerajaan ataupun berperang. Kemudian, entah mengapa bendera berwarna merah dan putih itu juga digunakan kerajaan-kerajaan lainnya.

Pada abad ke-19, warna merah putih pun semakin populer karena Pangeran Diponegoro dan pasukannya menggunakan bendera merah dan putih sebagai panji saat melawan pasukan penjajah. Begitu juga pada saat memasuki abad ke-20, para pemuda dan nasionalis yang membela tanah air menggunakan bendera merah putih.

Mungkin kita teringat kembali pelajaran Sejarah yang menceritakan tentang peristiwa perobekan warna biru pada bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato yang membuat bendera itu menjadi merah putih saja. Peristiwa itupun berlanjut menjadi peristiwa berdarah demi melawan penjajahan, dan alhamdulillah pengorbanan para pejuang kita tidak sia-sia. Karena itu, kita harus saling menjaga dan membangun bangsa dan negara kita karena pahlawan kita sudah mengorbankan segalanya untuk merebut kemerdekaan Indonesia untuk anak cucunya.


Sedikit informasi lagi, mungkin kita hanya tahu bahwa makna merah putih pada bendera kita adalah berani dan suci. Tetapi menurut perpektif lainnya, warna merah itu berasal dari merah gula jawa, dan warna putih berasal dari warna nasi. Ternyata, bendera kita warnanya nggak jauh-jauh dari makanan, dan pantas saja makanan Indonesia enak-enak. Benderanya sudah cukup mewakili bagaimana kelezatan masakan nusantara. Buat kamu yang sedang makan, ya selamat makan dan buat kamu yang sudah membaca artikel ini, terima kasih banyak.

Friday, February 03, 2017

Bagaimana Terbentuknya Istilah Indonesia?

Pernahkan kita terpikir mengapa nama negara kita sendiri Indonesia dan dari manakah kata Indonesia itu berasal? Apakah hanya kebetulan dicetuskan saja oleh seorang pejuang bangsa kita ataukah ada sejarah panjang dalam nama negara yang kita cintai ini?

Credit photo: fotolia.com

Sebenarnya dahulu negeri kita lebih dikenal dengan sebutan Hindia Timur atau Hindia Belanda. Disebut Hindia Belanda bukan hanya karena negeri kita saat itu sedang dijajah bangsa Belanda, tapi juga untuk membedakan daerah Hindia jajahan Inggris yang sekarang menjadi negara India. Nama Indonesia sendiri baru populer di abad 19 dan pertama kali digunakan saat lahirnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Kemudian, pada tahun 1945, nama Indonesia digunakan sebagai nama negara kita saat Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kata Indonesia sendiri muncul dengan sejarah yang panjang. Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal dengan nama Multatuli, pernah mengusulkan nama Insulinde, yang mengandung arti “Kepulauan Hindia”, untuk nama tanah air kita. Namun, nama itu tidak populer. Kemudian, pada tahun 1850, seorang ahli etnologi asal Inggris, George Samuel Windsor Earl menulis dalam artikel ilmiahnya bahwa sudah saatnya kepulauan Hindia Timur memiliki nama khas tersendiri. Earl mengajukan dua pilihan nama yang berhubungan dengan ras Melayu khas Asia Tenggara, yaitu Malayunesia dan Indunesia.

Kemudian, James Richardson Logan, seorang ahli etnologi juga, menulis artikel ilmiah tentang kepulauan Hindia. Logan mengutip tulisan George Samuel Windsor Earl, kemudian Logan menggunakan istilah Indunesia dalam tulisannya dengan mengganti u dengan o agar lebih mudah diucapkan. Kemudian, istilah Indonesia dipakai Logan untuk artikel-artikel ilmiahnya. Mungkin Logan tidak menyadari bahwa istilah yang digunakannya akan menjadi terkenal kedepannya. Kata Indonesia pun akhirnya menyebar di kalangan cendikiawan bangsa Belanda dan bangsa Hindia Timur dan terus populer digunakan hingga menjadi nama negara kita.


Begitulah asal usul nama negara kita, Indonesia. Semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan kita dan menambah kecintaan kita terhadap negara kita ini. Bagikan tulisan ini agar teman-teman kita tahu secuil sejarah Indonesia. Dan seperti biasa, terima kasih telah membaca.

Benarkah Indonesia Dijajah 350 Tahun?

Pasti kita semua sudah tahu kalau negara kita, Indonesia, pernah dijajah Belanda. Apakah itu waktu kita belajar Sejarah di kelas atau dari pidato-pidato pembina upacara pada saat upacara 17 Agustus. Kata guru kita, buku-buku pelajaran Sejarah, maupun kata Presiden Soekarno dalam pidatonya sendiri pada tahun 1950, mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara terjajah selama 350 tahun. Benarkah kita dijajah selama 350 tahun?

Credit photo: wikimedia.org

Menurut seorang ahli hukum sejarah kolonial, bangsa Belanda menggunakan pernyataan “kami telah menjajah Hindia Timur (nama populernya Indonesia dulu sebelum merdeka) selama 350 tahun” untuk mengembalikan kekuasaan yang sempat direbut bangsa Inggris yang menjajah Indonesia. Ya, ternyata yang menjajah Indonesia bukan hanya bangsa Belanda saja. Bangsa Inggris dan bangsa Jepang pun pernah menjajah negeri kita.

Kemudian, Belanda mencoba menanamkan anggapan bahwa Indonesia telah dijajah selama 350 tahun dalam kurikulum pendidikan pada masa kolonial dahulu, tepatnya sejak kedatangan Cornelius de Houtman ke Indonesia. Pernyataan itupun ditegaskan juga oleh gubernur pemerintahan Belanda di Hindia Timur pada tahun 1930an “Belanda telah menguasai Hindia selama lebih dari 300 tahun dan akan terus menguasainya sampai 300 tahun mendatang.” Padahal sebenarnya pada saat Cornelius de Houtman datang ke Indonesia hanya untuk membeli rempah-rempah. Ya, Indonesia saat itu merupakan daerah penghasil rempah-rempah terenak di dunia.

Kembali ke diskusi penjajahan Belanda ini, arti kata menjajah dalam KBBI adalah menguasai atau memerintah suatu daerah. Sementara itu, penjajahan baru terjadi saat VOC didirikan oleh pemerintahan Belanda di Indonesia pada tahun 1602. Jadi, jika kronologi penjajahan Belanda dimulai dari tahun 1602, kemudian direbut oleh bangsa Inggris pada tahun 1811, kemudian direbut kembali oleh Belanda pada tahun 1816, kemudian direbut bangsa Jepang pada tahun 1942 hingga 1945, maka sebenarnya Indonesia dijajah Belanda selama 343 tahun dan sisanya dijajah Inggris selama  5 tahun dan Jepang selama kurang lebih 2 tahun. Kemudian, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya setelah mengalami masa penuh konflik, ketakutan, perjuangan yang panjang dengan darah hingga kita bisa merasakan kebebasan sebagai negara merdeka. Alhamdulillah.


Jadi sekarang kita sudah tahu bahwa Indonesia benar-benar dijajah 350 tahun dengan rincian siapa saja penjajahnya. Semoga informasi sejarah ini bisa berguna buat kita semua dan kita harus memperjuangkan kemerdekaan ini dengan menjadi bangsa yang cerdas. Terima kasih telah membaca artikel ini.